Iri, Iri, dan Iri *)

Aku iri, iri dengan malam yang mudahnya merangkulmu, membuatmu terdiam sejenak memikirkan apa yang kan terpikir. Segitu praktisnya malam merayapi kehidupan malammu, menghalangiku untuk lebih lama denganmu.

Namun di malam sepekat apapun, saat kuraba dadaku, kutemukan kau di sana, membuatku berani menantang apa saja, membuatku selalu pulang, dimana kau membuka gerbang, tersenyum, dan aku jatuh dalam pelukanmu.

Ketika malam itu berubah menjadi sebuah kecerahan untukmu, setidaknya aku pernah menemani di malam pekatmu, di setiap bagian sulit yang terangkai oleh waktu dan egois diri.

Di malam pekat saat lekat menyesak rasa, aku merindu jadi bagian hatimu, menyesap berat hampa yang menekan jiwamu, hingga kurasakan bilur yang merisaukanmu. Lantas kita beterbangan dengan sayap kapas kala fajar membentangkan ciuman pertama. kesana, ya ke sana kita terbang.

Dunia yang menunjukkan kesombongannya menjadi alur yang mengiringi perjalanan waktu kita, menjadi saksi bisu atas anugerah yang pernah dirasa indah dan selalu indah hingga tak cukup waktu lagi yang mampu membentangkan keindahan dan kesempurnaannya.

 

*Hanya sedang berlatih berpuitis-puitis.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s