Anatole France: Setia Menegakkan Humanisme Melalui Skeptisisme dan Ironi *)

Tidak banyak yang tahu tentang sastrawan Anatole France, oleh karena karya-karyanya yang dilarang Roma. Di tulisan kali ini, saya ingin menghadirkan sudut pandang yang berbeda untuk sosoknya.

*Adalah salah satu tugas mata kuliah Sejarah Sastra Perancis.

 

“All I can say is that what I have done, I have done in good faith. I repeat: I love truth. I believe that humanity has need of it; but surely it has a much greater need of falsehood, which flatters and consoles and gives infinite hopes. Without falsehood humanity would perish of despair and annul.”[1]

Begitu tulis Anatole France (1844-1924) di paragraf terakhir salah satu bukunya, “La Vie en Fleur”, sesaat sebelum dia menerima hadiah Nobel Sastra pada tahun 1921. Kata-kata tersebut juga mencerminkan kepribadian Anatole France yang terungkapkan di dalam karya-karya sepanjang hidupnya. Sebagai tokoh sastra Perancis yang paling berpengaruh pada abad ke-19 sampai awal abad ke-20, France memiliki gaya skeptis – kadang-kadang ironis – dikemas secara unik, gamblang, serta menyentuh. Dari ruang kerjanya di Avenue du Bois, Anatole France menyuarakan idealismenya secara konsisten, tegas, dan jelas dalam karya-karyanya berupa novel, puisi, esai, serta drama.

Kebesaran France tampak dari tulisan-tulisannya yang sebagian besar termasuk dalam kategori ­best seller books saat itu. Para kritikus memujinya sebagai penulis Perancis yang memiliki kepribadian kuat serta banyak berkontribusi pada perkembangan pemikiran Bangsa Perancis dan Eropa pada umumnya di awal abad ke-20. Beberapa pengamat bahkan menyejajarkan Anatole France dengan Voltaire[2]. Tak heran, jika Time Magazine[3] menyebut France sebagai filsuf, seniman, dan guru bangsa; bahkan guru bangsa terakhir yang masih setia menyuarakan hal-hal yang seharusnya tidak dilupakan oleh orang-orang tatkala peradaban beranjak menuju kulminasinya. Encyclopedia of World memuji France sebagai “… combining classical purity of style with penetrating flashes of irony, he is a major figure in the tradition of liberal humanism in French literature”[4].

Kelihaian dan kepekaan pemikiran France saat menggambarkan kemanusiaan dan ironi sudah terpupuk, bahkan sebelum menulis debut novelnya, “Le Crime de Sylvestre Bonnard”[5], yang mengangkat namanya sebagai penulis papan atas saat itu. Sebelumnya, France (kerap kali dengan memakai nama samaran Piere Noziere) sudah menunjukkan ketertarikannya dalam humanisme. Hal ini tampak pada karya-karyanya sebelum “Le Crime de Sylvestre Bonnard”, salah satunya dia menuliskan: “I think that men in general are worse than they seem. They do not show themselves as they are; they hide when they commit deeds which will cause them to be hated or despised, and show themselves when they act in a manner which will be approved or admired. I have rarely opened a door inadvertently without finding something that made me look, with pity on humanity, with disgust of horror”[6].

Secara umum, kehidupan Anatole France dapat dirunut menjadi 3 periode, yakni (1) kelahiran dan karya-karya awalnya; (2) masa-masa produktif; dan (3) masa-masa kematangan. Peristiwa-peristiwa dalam kehidupan pribadi, politik, sosial, serta proses pencarian Anatole France sangat mempengaruhi karya-karya yang dihasilkannya.

Kelahiran dan Karya-karya Awal (1844-1877)

Tumbuh di lingkungan yang akrab dengan dunia buku, Anatole France lahir di Quai Malaquais, Paris, pada tanggal 16 April 1844 dengan nama Jacques Anatole François Thibault.  Namun ia tumbuh di Quai Voltaire No. 9, hanya beberapa rumah dari tempat lahirnya Voltaire 150 tahun sebelumnya. Ayahnya – François Noël Thibault –  adalah seorang Katolik yang taat, royalis yang setia, murah hati, belajar secara otodidak, serta hidup dari mengelola toko buku yang oleh para koleganya disebut “Librarie de France”, mungkin karena toko ini banyak menjual buku-buku tentang Revolusi Perancis. Konon, dari nama toko buku inilah Anatole France mengambil nama belakang[7].  Akan tetapi sumber lain mengatakan bahwa nama belakang itu diambil dari julukan “le père France” yang diberikan kepada ayah Anatole France oleh para rekannya, tentara pengawal Charles X[8].

Suasana rumah yang penuh buku serta gaya pendidikan yang diterapkan ayahnya menyebabkan si kecil Anatole France leluasa belajar dari berbagai bacaan yang tersedia di rumah maupun toko buku ayahnya. Perkenalannya dengan banyak pelanggan “Librarie de France” juga menambah wawasan France, lebih lagi tidak sedikit dari pelanggan tersebut adalah para akademisi maupun tokoh-tokoh terkemuka di Paris. Di kemudian hari, hubungannya dengan orang-orang ini berpengaruh cukup besar di dalam karya-karya France.

Anatole France kemudian menamatkan pendidikan formalnya di Collège Stanislas, sebuah sekolah Katolik swasta yang dikelola oleh Ordo Jesuit, dan dikhususkan bagi anak laki-laki. Namun, justru di sekolah inilah muncul ketidaksukaan France terhadap gereja. Beberapa sumber, seperti Encyclopedia of World Biography, menuliskan kebenciannya terhadap gereja sebagai “a lasting dislike”[9], yang tidak bakal disatukan lagi. Di sekolah ini France tumbuh sebagai murid yang prestasinya biasa-biasa saja serta tidak menonjol, bahkan sempat beberapa kali gagal ujian sarjana muda, sampai akhirnya ia lulus pada usia 20 tahun (tahun 1864). Dia sempat pula bersekolah di École des Chartes. Kemudian selama 20 tahun berikutnya, France berpindah-pindah pekerjaan dengan beragai posisi. Namun salah satu hal yang pasti, dia selalu menyisihkan waktu untuk menulis.

Sekitar tahun 1860-an, Anatole France memulai karier sebagai asisten ayahnya. Kemudian, dengan memanfaatkan relasi-relasinya di kalangan penerbit, Anatole France berganti-ganti profesi sebagai asisten penerbit dan petugas katalog di Bacheline-Deflorenne dan di Lemerre. Bahkan ia juga bekerja sebagai guru, selain sempat menjadi asisten editor setelah ayahnya pensiun. Belakangan, pada tahun 1867, France juga dikenal sebagai wartawan kesusasteraan yang banyak menulis artikel, esai, maupun resensi.  Salah satu puisinya, “Les Légions de Varus”, dimuat oleh Gazzette rimée pada tahun ini juga.

Pada tahun 1868, buku pertama France lahir. Buku ini (“Alfred de Vigny”) merupakan tinjauan atas karya-karya Alfred de Vigny[10], seorang pujangga, novelis, sekaligus penulis lakon yang terkenal saat itu. Setelah itu, France menghasilkan beberapa buku lagi berupa kumpulan puisi dan drama. Namun, buku-buku tersebut tidak begitu meraih sukses, walaupun secara umum diapresiasi oleh para pembacanya. Beberapa buku tersebut antara lain “La Part de Medeleine”[11], “Poèmes Dorés”[12], dan “Les Noces Corinthiennes”[13]. Pada saat itu, France banyak menulis esai mengenai berbagai pujangga Eropa, dari Apuleius[14] sampai Zola[15], serta berbagai kritik. Belakangan, karya-karya tersebut diterbitkan ulang setelah France terkenal, yakni “Le Génie Latin” (1913) dan “La Vie Littéraire” (1888-1892)[16]. Selain itu, France juga banyak memberi analisis karya-karya dan pandangan filosofis dari Balzac[17], Baudelaire[18], serta Dumas[19]. Tulisan-tulisan awal Anatole France ini sudah cenderung skeptis-humanis. Esai-esai France – menurut para kritikus – tampak lugas, jujur, apresiatif, dan dalam beberapa hal elegan. Namun demikian, karya-karya ini masih memiliki beberapa kelemahan, diantaranya adalah kurangnya orisinalitas dan gaya yang kuat sehingga kurang mampu menembus perhatian pembacanya. Hal ini nampak nyata pada “Le Génie Latin” dan “La Vie Littéraire”[20].

Sementara itu, pada tahun 1870-1871, Perang Franco-Prusian[21] meletus. Bergabung sebagai tentara, peperangan ini meninggalkan kenangan pahit dalam benak France. Pengepungan kota Paris, kesengsaraan masyarakat, dan terutama tragedi pemberontakan Komune Paris (1871)[22] memperkaya nuansa ironis dalam karya-karya France selanjutnya.

Dengan berbagai peristiwa yang terjadi di Paris, tahun-tahun ini merupakan masa Anatole France mencari bentuk yang pas sesuai dengan bakat dan kepribadiannya. Misalnya, setelah sempat berusaha mengabdikan diri untuk menulis puisi, debutnya sebagai penyair segera ditinggalkan setelah melihat bahwa puisi-puisinya kurang mendapat apresiasi.

Namun demikian, sebagai sastrawan yang cukup produktif, France menjadi anggota kelompok penyair Parnassian, Gautier, Catulle, Mendes, dan lain-lain[23]. Bahkan pada tahun 1875, ia duduk di dalam komite yang menyusun “The 3rd Parnasse Contemporain Compilation”.  Pada tahun ini pula, surat kabar “Le Temps” meminta France menulis kritik sastra kontemporer di kolom mingguannya. Kumpulan tulisan inilah yang di kemudian hari diterbitkan menjadi “La Vie Littéraire”. Karier France kian menanjak tatkala ia menerima pekerjaan sebagai pustakawan perpustakaan Senat Perancis pada tahun berikutnya (1876). Pekerjaan yang kemudian digelutinya selama 14 tahun ini memberinya banyak kesempatan untuk mengasah kemampuan France sehingga ia semakin produktif menghasilkan karya-karya yang lebih baik.

Seiring dengan semakin mapannya kehidupan ekonomi dan sosial Anatole France, dia memutuskan untuk menikahi Valérie Guérin de Sauville, putri seorang warga yang terpandang, pada tahun 1877. Kumpulan cerita pertamanya berjudul “Jocaste et Le Chat Maigre” diterbitkan dua tahun kemudian, pada tahun 1879. Pernikahannya dikaruniai seorang anak, Suzanne, pada tahun 1881.

Masa-masa Awal Kepopuleran France (1879-1896)

“To accomplish great things we must not only act, but also dream, not only plan, but also believe.” (Anatole France on Accomplishments.)

Kata-kata di atas seakan merujuk pada kesuksesan karier Anatole France yang diraih bukan sebagai kebetulan semata, namun sebagai hasil kerja keras dan harapan. Novel berjudul “Le Crime de Sylvestre Bonnard” yang diterbitkan pada tahun 1881 merupakan kesuksesan pertama Anatole France. Novel yang menceritakan seorang sarjana tua bernama Sylvester Bonnard ini dipuji karena kecemerlangannya menampilkan kisah secara elegan, protagonis, skeptis, namun tetap optimis; walaupun ironi tersebar di seluruh cerita. Ironi dalam novel ini ditampilkan secara lebih halus, berlawanan dengan realisme “brutal” Èmile Zola. Tokoh Sylvester Bonnard ini pun merupakan perwujudan pemikiran-pemikiran France yang mendalam. Novel ini berhasil mendapatkan penghargaan dari Académie Française[24]. Sayangnya, “Les Désirs de Jean Servien” yang terbit pada tahun 1882 tidak meraih kesuksesan.

Karya berikutnya yang patut mendapat perhatian adalah novel autobiografi, terbit di tahun 1885, “Le Livre de Mon Ami”. Novel-novel autobiografi lainnya adalah “Pierre Nozière” muncul pada tahun 1899, “Le Petit Pierre” (1918), dan “La Vie au Fleur (1922).

Sementara itu, resensi-resensi yang ditulis France oleh para kritikus dianggap sangat skeptis seperti tulisan Renan[25], namun jauh lebih subjektif.

Pada sekitar akhir dasawarsa 1880-an, tulisan-tulisan France sempat berubah menjadi cukup berlawanan dengan gaya naturalisme Zola. Pada saat itu novel-novel France diwarnai oleh roman-roman sejarah yang memikat pembaca dengan pesona dan kejayaan peradaban masa lalu. Salah topik satu favorit France saat itu adalah beralihnya kepercayaan masyarakat dari Pagan menjadi Kristen. Dengan skeptis, France banyak mengkritik gereja melalui karya-karyanya. “Balthazar”, terbit pada tahun 1889, menceritakan kisah hidup Balthazar, salah satu dari Orang Majus[26]. “Thaïs” yang terbit pada tahun 1890 menceritakan pertobatan seorang pelacur di Alexandria (Mesir) pada abad-abad pertama, dengan mengambil setting perkembangan keyakinan Kristen saat itu. Mengisahkan seorang pelacur bernama Thaïs dan rohaniawan bernama Paphnuce, novel ini dapat diperbandingkan dengan “La Tentation de Saint Antoine” (1874) karya Gustave Flaubert[27]. Sedangkan “L’Etui de Nacre” (1892) adalah kisah ironis dari seorang pertapa dan faun[28].

Pada tahun 1893, novel Anatole France, “La Rôtisserie de la Reine Pédauque” sangat populer di masyarakat dan banyak didiskusikan oleh berbagai kalangan. Novel ini mengungkap pernik-pernik dan kisah kehidupan abad ke-18 secara mendalam, luas, detil, dan memikat. Melalui novel ini, France secara khas menyindir kepercayaan masyarakat mengenai hal-hal gaib. Tokoh utama novel ini, Abbé Coignard, dikisahkan sebagai orang  yang sarkastis, kompleks, namun menarik hati. Tokoh ini muncul lagi di novel-novel France berikutnya; “Les Opinion de Jérôme Coignard” (1893) dan seri “Le Puits de Sainte Claire” (1895). “Les Opinion de Jérôme Coignard” merupakan kritik sosial yang dengan nuansa fin de siècle[29] yang kental, penuh dekadensi moral dan penyangkalan diri. Nuansa ini sempat populer di akhir abad 19.

Melalui roman-tragedi berjudul “Le Lys Rouge” (1894), France kembali lagi menekuni topik yang konvensional sesuai dengan zamannya[30]. Novel yang diklaim mendapat kesuksesan tertinggi ini mengisahkan asmara kaum menengah atas dan banyak mengambil setting di Italia. Berlawanan dengan itu, kritik sosial France muncul pertama kali pada tahun berikutnya melalui buku berjudul  “Le Jardin d’Épicure”. Buku ini berisi serangkaian artikel yang pernah ditulis oleh Anatole France. Artikel-artikel tersebut berisi kritikan terhadap kehidupan, moral, dan sikap masyarakat Perancis waktu itu. Sindiran-sindiannya yang tajam serta skeptis diimbangi dengan pemikiran France yang lugas dan mencerahkan.

Sementara itu, kehidupan pribadi Natole France juga berubah. Pada tahun 1890, ia berhenti dari pekerjaannya sebagai pustakawan Senat. Hubungannya dengan Valérie Guérin berantakan sebagai akibat dari perselingkuhannya dengan Mme. Arman de Caillavet. France dan Guérin akhirnya bercerai pada tahun 1893. Kisah asmaranya dengan de Caillavet inilah yang rupanya memberi inspirasi dalam  “Thaïs” (1890). Sementara di dunia karier, pada tahun 1896 Anatole France terpilih sebagai anggota Académie Française yang cukup bergengsi.

Karya-karya di Masa-masa Kematangan France (1896-1922)

Terpilihnya sebagai anggota Académie Française merupakan puncak karier France di dunia kerja. Demikian pula dengan karya-karyanya. Dengan berbagai kemudahan dan jejaring yang semakin terbangun luas, pemikiran-pemikiran France mulai beranjak pada permasalahan nyata yang terjadi di Perancis maupun Eropa pada umumnya. Kematangan dan kritik sosial France yang tertuang dalam “Le Jardin d’Épicure” kembali menemukan bentuk di dunia fiksi. Pandangan politik France-pun cenderung berangsur menjadi sosialis.

Sepanjang tahun 1897-1901, France menghasilkan 4 volume prosa yang tergabung dalam kronik/tetralogi berjudul “L’Histoire Contemporaine” dengan tokoh utama seorang guru bernama Professor Bergeret (atau Monsieur Bergeret). M. Bergeret memiliki karakter yang kuat serta dipercaya sebagai tokoh fiksi paling terkenal di dunia kesusasteraan Perancis.  “L’Histoire Contemporaine” pada dasarnya merupakan berupa laporan fiktif dari tokoh bernama Belle Epoque. Di dalamnya, France memasukkan unsur-unsur kritik sosial masyarakat Perancis, terutama berkaitan dengan kasus Dreyfus[31] yang sedang hangat-hangatnya saat itu.  Tetralogi ini terdiri dari “1: L’Orme du Mail” (1897), “2: Le Mannequin d’osier” (1897), “3: L’Anneu d’améthyste” (1899), dan “4: M. Bergeret à Paris” (1901).

Secara khusus, Anatole France berperan besar di dalam kasus Dreyfus, sebagai orang pertama yang menandatangani Manifesto Émile Zola yang mendukung bahwa Alfred Dreyfus tidak bersalah. Kasus Dreyfus yang dimulai pada tahun 1896 ini sangat menarik perhatian publik dan menyebabkan kegalauan politik dan sosial di Perancis. Di tengah kegalauan tersebut, France dengan bahasanya berusaha mengurai dengan jernih melalui “L’Histoire Contemporaine”.  Bahkan tetraloginya yang terakhir, “4: M. Bergeret à Paris”, France dengan lugas mengisahkan kasus Dreyfus ini dengan lebih tajam. M Bergeret dalam kisah ini dianggap mewakili pandangan rakyat awam Paris dalam memandang berbagai persoalan sosial, termasuk kasus Dreyfus. Pada tahun 1901 pula, France menulis kisah berjudul “Crainquebille”, yang dengan humor-satirnya memparabelkan kasus Dreyfus melalui kisah vonis tidak adil atas penjaja keliling jelata yang lugu dan tidak berbahaya. Hal ini membuktikan konsistensi dan objektivitas Anatole France yang setia berpegang pada humanisme liberal namun tetap tanpa meninggalkan sosialismenya.

Karya biografi sejarah Anatole France berjudul “Vie de Jeanne d’Arc” (1908) merupakan 2 jilid biografi Jeanne d’Arc. Namun, buku ini mendapat banyak serangan kritik dari pihak gereja dan kaum sejarahwan. Mereka mempertanyakan keakuratan sejarah yang dituliskan oleh France, serta tidak menerima penggambaran realistik Jeanne d’Arc.

Karya France berikutnya adalah “L’lle des Pingouins”. Diterbitkan pada tahun 1908, novel satir ini mengisahkan transformasi seekor pinguin menjadi manusia akibat seorang pendeta rabun (Abbot Mael) yang keliru membaptis. Kaya akan ejekan pada situasi politik Perancis, novel ini dianggap sebagai satu-satunya novel satir Perancis yang dapat disandingkan dengan “Candide” karya Voltaire. Pada tahun 1912, France menerbitkan “Les dieux on soif”. Novel berlatar belakang revolusi Perancis ini mengisahkan seniman muda, Évariste Gamelin, yang mencari jati diri serta memperjuangkan idealismenya. Pencariannya mendekati akhir saat ia akhirnya bergabung menjadi anggota pengadilan revolusioner, saat kebaikan dan kelembutan hatinya berubah menjadi fanatisme yang kejam serta haus darah.

Sementara itu, novel berikutnya yang berjudul “La Revolte des Anges” (1914) mengisahkan pemberontakan malaikat penjaga bernama Arcade melawan kelaliman kekal dengan tujuan menggulingkan kekuasaan Tuhan. Novel ini tidak sesukses novel-novel sebelumnya. Bersama “Vie de Jeanne d’Arc” , novel berbumbu roman ini kerap dianggap subversif oleh gereja pada masa itu.

Akhirnya, pada tahun 1922, karya-karya Anatole France dimasukkan dalam Index Librorum Prohibitorum atau daftar buku-buku yang dilarang oleh gereja Katolik Roma. Hal ini disebaban pemikiran France dianggap kerap tidak sesuai dengan keyakinan gereja dan dapat merusak mental generasi muda. Namun akhirnya pada tahun 1966, pelarangan ini dihapuskan.

Anatole France terus berkarya di masa tuanya, walaupun kehidupan pribadinya semakin rumit dan berkali-kali menyebabkan France jatuh ke dalam kesedihan. Namun beberapa permasalahan pribadi ini juga merupakan akibat dari kesalahannya sendiri. Hubungannya dengan Mme. Armand de Caillavet rusak pada tahun 1904 ketika France berselingkuh dengan wanita lain lagi. De Caillavet yang menguntungkan France sehingga ia memimpin salon[32] Armand de Caillavet selama bertahun-tahun akhirnya meninggal pada tahun 1910 setelah sakit parah. Sepeninggal de Caillavet, kehidupan asmara France menjadi simpang siur. Ia menikahi penjaga rumahnya, Emma Laprevotte, setelah terjadi affair yang kompleks. Sementara itu, ia juga menjalin hubungan dengan seorang wanita Amerika yang akhirnya bunuh diri pada tahun 1911. Kesedihannya mengalami puncak saat Suzanne, putri yang paling dikasihi hasil pernikahannya dengan Valérie, meninggal pada tahun 1917[33].

Pandangan hidup dan politik France pun bergeser menjadi semakin “kekiri-kirian”. Bahkan ia sempat menjadi pendukung Partai Komunis Perancis, walaupun menjelang akhir hayatnya ia kembali berubah pikiran.

Walaupun demikian, pengakuan internasional akan karya-karya France terwujud dalam penghargaan Nobel di bidang sastra yang diberikan pada Anatole France pada tahun 1921. Pengantar penganugerahan Nobel tersebut menyebutkan “in recognition of his brilliant literary achievements, characterized as they are by a nobility of style, a profound human sympathy, grace, and a true Gallic temperament”[34].

Pada tahun 1923, seiring dengan memburuknya kondisi kesehatannya, Anatole France pindah rumah ke daerah Tours. Sesaat menjelang akhir hidupnya, salah satu dari dokter berusaha membesarkan hati France dengan mengatakan bahwa dia akan baik-baik saja. Namun, France menjawab dengan senyum yang lemah, “Kalau begitu, demi Tuhan, beri aku beberapa penyakit agar aku dapat meninggal dengan lebih cepat.” Barangkali itu adalah kata-kata terakhir Anatole France[35].

Akhirnya, Anatole France wafat pada usia 80 tahun pada tanggal 12 Oktober 1924 di Tours, Perancis.  Ia dimakamkan di Neully-sur-Seine Community Cemetery di dekat Paris. Walaupun tidak diadakan upacara pemakaman secara nasional, pemakamannya dihadiri oleh para petinggi pemerintahan Perancis. Pada saat yang sama para pengunjung Paris Opera mengenang wafat France dengan mendengarkan penampilan “Thaïs”, performance musik yang diilhami oleh karya France.

Anatole France telah meninggal, namun berbagai karya dan pemikirannya telah mewarnai perkembangan dunia sastra sekaligus filsafat dan sosial di Perancis, bahkan dunia. Koleksi buku-buku karya France pun diterbitkan dalam 25 volume pada tahun 1925 dan 1935. Berbagai kontroversi mengenai sikap Anatole France merupakan daya pikat sekaligus jebakan bagi generasi muda yang secara harafiah berusaha mengikuti jejaknya. Bagi generasi muda ini, France dalam salah satu tulisannya memberi nasihat: “The whole art of teaching is only the art of awakening the natural curiosity of the young mind for the purpose of satisfying it afterwards” (Anatole France on Curiosity)[36].


Daftar Pustaka

  1. Gorman, Herbert S., Anatole France, Nobel Prize Winner, New York Times, page 43, November 20, 1921.
  2. http://nobelprize.org/nobel_prizes/literature/laureates/1921/france-bio.html
  3. http://en.wikipedia.org/wiki/Anatole_france
  4. http://id.wikipedia.org/wiki/Anatole_France
  5. http://www.quotationspage.com/quotes/Anatole_France/
  6. http://nobelprize.org/nobel_prizes/literature/laureates/1921/
  7. http://www.answers.com/topic/anatole-france
  8. http://id.wikipedia.org/wiki/Skeptisisme
  9. http://www.bookrags.com/quotes/Anatole_France

10.  http://www.bookrags.com/biography/anatole-france/

11.  http://www.time.com/time/magazine/article/0,9171,769089,00.html

12.  http://id.wikipedia.org/wiki/Peristiwa_Dreyfus

13.  http://en.wikipedia.org/wiki/Dreyfus_Affair

14.  http://en.wikipedia.org/wiki/Index_Librorum_Prohibitorum

15.  John, S. Beynon, Anatole France, 2001, Columbia Encyclopedia

16.  Longman Dictionary of Contemporary English, 3rd Edition, Pearson Education, 2000.

17.  Microsoft Encarta Encyclopedia 2009.

18.  Microsoft Student 2009 [DVD], France, Anatole, Microsoft Corporation, 2008.

19.  Orbituary of Anatole France: The Smiling Sceptic, Irony and Humour, The Times, October 13, 1924.


[1] Teks tersebut aslinya ditulis dalam Bahasa Perancis. Versi Bahasa Indonesia-nya kira-kira seperti berikut: “Aku hanya bisa mengatakan bahwa apa yang telah kukerjakan telah dikerjakan dengan keyakinan yang baik. Aku ulangi: aku mencintai kebenaran. Aku percaya bahwa kemanusiaan membutuhkan hal itu, namun tentu saja ia (kemanusiaan) sangat jauh lebih membutuhkan kesalahan, yang merayu dan menghibur serta memberi harapan tak terbatas. Tanpa kesalahan, kemanusiaan akan binasa dalam keputusasaan dan kegagalan” [penerj.: penulis]. Dikutip oleh Herbert S. Gorman dari paragraf terakhir “La Vie en Fleur” sebelum buku tersebut diterbitkan. (Anatole France, Nobel Prize Winner, by Herbert S. Gorman, New York Times Nov. 20, 1921 pg. 43)

[2] Nama aslinya François-Marie Aoruet (1694-1778), penulis Perancis sekaligus tokoh intelektual yang berpengaruh pada “Abad Pencerahan”.

[4] “ … menggabungkan gaya klasik yang murni dengan sentuhan yang dalam pada ironi, dia (Anatole France) adalah tokoh utama kebebasan perikemanusiaan di dalam literatur Perancis” [penerj.: penulis]. Sumber: http://www.bookrags.com/biography/anatole-france/

[5] Diterbitkan pada tahun 1881. Edisi Bahasa Inggrisnya berjudul “The Crime of Sylvestre Bonnard”.

[6] Terjemahan bebasnya: “Aku pikir kebanyakan orang-orang adalah lebih buruk daripada kelihatannya. Mereka tidak menunjukkan diri mereka sebagaimana adanya; mereka sembunyi tatkala melakukan perbuatan yang akan menyebabkan mereka dibenci atau dipandang rendah, serta menampilkan diri mereka sendiri saat mereka melakukan perbuatan baik yang akan disetujui bahkan dipuji. Aku lantas jarang membuka pintu rumahku dengan tidak was-was, tanpa menemukan sesuatu yang membuatku melihat, dengan rasa sayang pada kemanusiaan, dengan rasa muak pada kengerian” [penerj.: penulis]. Anatole France, Nobel Prize Winner, by Herbert S. Gorman, New York Times Nov. 20, 1921 pg. 43.

[7] Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Anatole_France, diunduh pada tanggal 14 November 2010.

[10] Alfred de Vigny adalah salah satu tokoh gerakan romantisisme di Perancis pada abad ke-19. Karya-karyanya diterbitkan setelah dia meninggal dalam sebuah kompilasi berjudul “Les Destinées” (1864).

[11] Adalah puisi, diterbitkan pada tahun 1869 oleh Le Parnasse Contemporain.

[12] Kumpulan puisi, 1873. Edisi Bahasa Inggris-nya berjudul “The Bride of Corinth”.

[13] Prosa liris, 1876.

[14] Lucius Apuleius (125-170 M), seorang filsuf dan penulis Romawi, kelahiran Madaros, Numidia (sekarang Algeria).

[15] Émile Édouard Charles Antoine Zola (1840-1902), novelis Perancis dan pendiri gerakan Naturalisme.

[16] “La Vie Littéraire” merupakan kumpulan esai kritis Anatole France yang dimuat di surat kabar “Le Temps”, diterbitkan menjadi 4 volume.

[17] Jean Louis Guez de Balzac (1597-1654), penulis esai dan kritik dari Perancis.

[18] Charles Pierre Baudelaire (1821-1867), penulis puisi dan kritik dari Perancis. Pendiri “Symbolist School”.

[19] Alexandre Dumas (1802-1870), novelis dan penulis lakon dari Perancis. Dumas merupakan tokoh pada periode Romantisisme Eropa, terutama Perancis. Dijuluki sebagai père Dumas, novel-novelnya yang terkenal antara lain Les Trois Mousquetaires (1844) dan Le Comte de Monte-Cristo (1844).

[21] Perang antara Perancis dengan Kerajaan Prusia yang disebabkan keinginan Prusia (melalui pernyataan Bismarck) untuk mengontrol Perancis yang saat itu berada di bawah Napoleon III.  Dalam perang ini tentara Perancis kalah dan Napoleon III ditangkap, serta Perancis diduduki Jerman sampai tahun 1873.  Perang diakhiri dengan Perjanjian Frankfurt (10 Mei 1871) yang merugikan Perancis.

[22] Peristiwa pemberontakan kaum republikan dan sosialis radikal di Paris yang menolak Perancis kembali ke sistem monarki pada tanggal 17 dan 18 Maret 1871. Pemberontakan ini ditumpas oleh tentara Prusia secara membabi buta dengan korban sampai 20.000 jiwa. Sebagian besar terbunuh pada “The Bloody Week”, tanggal 21-28 Mei 1871.

[23] Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Anatole_France, diunduh pada tanggal 14 November 2010.

[24] Didirikan oleh Kardinal Richelieu pada tahun 1635, lembaga ini menerapkan peraturan, standar, dan memberikan apresiasi dunia sastra dan bahasa Perancis. Salah satu tujuan pertama lembaga ini adalah menyusun Kamus Bahasa Perancis (1694). Bersama 5 lembaga lainnya, kini lembaga tersebut dikenal sebagai Institute de France. Pada abad 19, lembaga ini merupakan salah satu lembaga paling bergengsi di dunia sastra Perancis. (Sumber: Encarta Encyclopedia 2009.)

[25] Ernest Renan (1823-1892), filologis, filsuf, dan sejarahwan Perancis.

[26] Orang Majus (Magi) atau “Orang Bijak dari Timur” adalah kaum cerdik pandai (beberapa referensi menyebutnya sebagai raja-raja kecil) yang mengunjungi Yesus (Isa Al Masih) pada saat kelahiran-Nya. Orang Majus ini secara tradisi terdiri dari 3 orang, bernama Balthasar, Melchior, dan Caspar. Beberapa ahli percaya bahwa Orang Majus ini berasal dari Asia, seperti India, bahkan China.

[27] Gustave Flaubert (1821-1880), novelis dan pemikir Perancis. Karyanya yang terkenal adalah “Madame Bovary” (1857) dan “La Tentation de St Antoine” (1874).

[28] Faun adalah tokoh dalam mitos Romawi, berupa dewa berkepala manusia tetapi berbadan kambing. Mitos Yunani menyebutnya Satyr.

[29] Sebuah istilah yang merujuk pada akhir abad ke-19. Istilah ini biasa digunakan untuk menggambarkan dekadensi moral, keserakahan, industrialisasi, kemelaratan, dan penyangkalan terhadap sistem yang mapan.

[30] Beberapa kritikus malah menyebut novel ini mengambil topik kontemporer (Columbia Encyclopedia).

[31] Kasus Dreyfus (Dreyfus Affair atau Affaire Dreyfus) adalah skandal politik terburuk di Perancis pada akhir abad ke-19. Kapten Alfred Dreyfus (1859-1935), seorang perwira keturunan Yahudi, didakwa bersalah atas tuduhan berkhianat dan memberikan rahasia militer Perancis kepada pihak Jerman. Dia kemudian dibuang ke Devil’s Island, French Guiana. Namun beberapa tahun kemudian terungkap bahwa bukti-bukti yang memberatkan Dreyfus ternyata dipalsukan oleh Mayor Ferdinand Walsin Esterhazy. Setelah pengadilan dibuka kembali, Esterhazy dilepaskan oleh pihak militer setelah hanya 2 hari ditahan, sementara Dreyfus terus menjalani hukumannya, walaupun terbukti Dreyfus tidak bersalah. Skandal tersebut memecah belah Perancis menjadi pihak yang mendukung penghukuman Dreyfus (pemerintah, gereja Katolik Roma, militer, kelompok antisemit) dan pihak yang mendukung dilepaskannya Dreyfus (para cendikiawan, sastrawan, golongan kiri, dan rakyat kebanyakan). Kekacauan politik pecah setelah Èmile Zola mengirimkan surat terbuka berjudul “J’Accuse …!” kepada Presiden Perancis. Surat ini dimuat di halaman muka surat kabar L’Aurore. Zola juga menerbitkan Manifesto Zola untuk mendukung Dreyfus yang ditandatangani oleh para pendukung Dreyfus. Akhirnya Dreyfus dilepaskan, pangkatnya dinaikkan menjadi Mayor, dan Perancis menjalankan kebijakan politik pemisahan wewenang gereja dengan pemerintahan. Dreyfus menjadi pahlawan Perang Dunia I, menerima berbagai bintang jasa, dan pensiun dengan pangkat Letnan Kolonel.

[32] Atau Salon de Paris, adalah performance tahunan di Paris yang diikuti oleh para seniman dan sastrawan. Tradisi ini dimulai pada dasawarsa 1660-an dengan persetujuan Louis XIV.

[33] Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Anatole_France, diunduh pada tanggal 14 November 2010.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

2 Responses to Anatole France: Setia Menegakkan Humanisme Melalui Skeptisisme dan Ironi *)

  1. http://fastingforweightloss.net says:

    Many thanks for being my personal coach on this matter. I actually enjoyed the article quite definitely and most of all favored the way in which you handled the issues I widely known as controversial. You happen to be always extremely kind to readers much like me and help me in my everyday living. Thank you.

  2. omonimin says:

    Ur welcome, fellas.
    Maybe we can have short discussion by email (sincostan.elf@gmail.com).
    We can share our interest topics. See yaa…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s