‘Keruwetan’ Produk Gantung: Menambah Ketertarikan (Pembeli) Pengunjung-kah?

Tadi siang, selama kurang lebih 1 jam, saya bersama teman berkeliling menonton pameran komputer di dalam JEC YK. Stan-stan komputer/laptop dan peralatan pendukung lainnya ditata sedemikian rupa untuk memudahkan pengunjung –meskipun bagi saya, tetap saja tidak mudah– dalam melihat dan membandingkan harga, merk, serta komposisinya (saya bukan orang komputer dan gagap pula dalam beristilah TIK, sehingga kurang tahu panggilan tepat dari komposisi komputer/CPU  –yang kurang lebihnya tersusun atas motherboard, RAM, dll. –ada yang bersedia memberitahu saya? :p).

Bosan melihat sekumpulan stan yang menyajikan produk dengan bentuk yang sama ditambah hawa AC yang hampir tidak terasa seliwerannya, mendorong saya untuk memotret suasana yang didominasi oleh manusia dan alat-alat digital ini. Hasil foto saya tidak bagus tentunya (hanya bermodalkan kamera HP 2 MP dengan keterburu-buruan dalam memotret), namun jepretan-jepretan tersebut menimbulkan satu pertanyaan dan satu kesimpulan (bukan jawaban –mungkin-).

Jika saya bandingkan ketiga foto ini, saya dapat menyimpulkan bahwa stan yang menggantungkan produk-produk alat digital lainnya (selain laptop tentunya!) lebih terlihat menarik di mata pengunjung. ‘Keruwetan’ produk yang sengaja diciptakan oleh penyaji tampaknya memiliki tujuan dalam memberikan kesan lebih murah. Tak ayal, stan dengan keruwetan produk gantung lebih banyak dikunjungi. Hal ini kontras dengan stan yang tidak mau (atau barangkali tidak sudi) menggantungkan produk-produk seperti flashdisk, headset, earphone, dll. Ada kemungkinan, stan ini ingin memenuhi kriteria eksklusif atas produk mereka. Namun amat disayangkan, bagi orang Indonesia yang notabene tergabung dalam kelompok price sensitive, kurang tertarik mengunjungi stan yang ekslusif (meskipun harga yang ditawarkan tidak jauh berbeda –sekitar puluh hingga ratus ribuan—tapi kembali lagi soal kualitas jika berbicara harga). Eksklusifnya stan berdampak pada sepinya pengunjung, sehingga pengunjung berikutnya –yang sebenarnya ingin melihat– menjadi segan dan memilih lewat begitu saja.

Dan pertanyaan yang muncul adalah apakah ‘keruwetan produk gantung’ seperti itu merupakan bagian dari strategi pemasaran (atau mungkin strategi apa gitu) di bidang ekonomi? Pendapat saya berkata ‘ya’.

Saya pernah membaca sebuah artikel di majalah times/news week (dengan edisi yang terlupakan pula –sudah bertahun-tahun yang lalu-). Artikel ini membahas mengenai strategi pembelanjaan masyarakat di supermarket. Seperti yang kita tahu, barang-barang di supermarket tersusun rapi berdasarkan kategorinya dengan label harga yang cukup akurat pula (tidak jauh beda dengan harga di kasir –jika terdapat kasus perbedaan harga). Namun, jika Anda perhatikan, di sudut-sudut lorong yang akan dilewati pengunjung dan atau di dekat kasir, ada beberapa keranjang belanja yang penuh dengan isi barang (misalnya barang-barang dengan kategori makanan dan minuman). Mungkin Anda sekilas tidak memperhatikan dan menganggap keranjang-keranjang itu sengaja ditinggalkan oleh calon pembeli karena mendadak pulang atau alasan lain. Yang sebenarnya terjadi (selain alasan mendadak pulang tadi) adalah keranjang belanja tersebut sengaja ditempatkan di sana untuk menarik calon pembeli lainnya.

Bayangkan Anda berada di sebuah supermarket super besar dengan 2 lantai dan harus berbelanja untuk waktu yang telah ditetapkan. Anda pasti hanya akan mengambil barang-barang yang sudah dicatat dalam daftar belanja. Anda tidak akan sempat untuk memasuki semua lorong dan melihat barang-barang yang tersaji di rak-rak tinggi kanan dan kiri. Oleh karena itu, ada kemungkinan besar terdapat barang-barang (baik belum tercatat ataupun sudah tercatat) yang terlewatkan. Dengan ide menaruh keranjang belanja di sudut lorong dan atau area kasir yang akan Anda lewati, tidak menutup kemungkinan, Anda akan mengambil barang terlewatkan itu atau secara spontan ingin membeli karena ‘mumpung’ ada di dekat Anda. Is it true?

Jika Anda meyakini (termasuk saya – dengan pengakuan atas pengambilan dadakan seperti itu), berarti strategi pembelanjaan masyarakat (atau apapun istilahnya) berhasil diterapkan. Sebutan strategi atas penempatan keranjang belanja memang jitu. Anda mungkin tidak menyadarinya, namun itulah pasar, itulah bisnis, dan itulah strategi. Strategi tak akan disebut strategi jika semua ‘musuh’ sudah tahu rahasianya.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

One Response to ‘Keruwetan’ Produk Gantung: Menambah Ketertarikan (Pembeli) Pengunjung-kah?

  1. noel says:

    Namun di sisi lain, barangkali istilah “pameran” (atau exhibition) dalam kasus ini menjelma menjadi “pasar murah”.

    Biasanya retailer atau produsen mengikuti atau menggelar pameran dalam rangka mengekspos produk-produknya; agar calon konsumen aware dan lantas membeli – tidak harus di tempat pameran. Sehingga, teorinya, amatlah naif menilai kesuksesan pameran dari besarnya omzet yang mengalir dari retailer ke konsumen. Target pameran adalah brand awareness, pengenalan produk, dan penjajagan pasar oleh – biasanya – pihak produsen. Jadi, tatkala pameran diikuti ratusan pedagang eceran dengan saling mengobral cuap-cuap harga paling murah, maka jadilah pasar murah. Bazar! Apalagi pameran semacam itu kini sangat sering digelar dengan tema beragam. Namun sekali lagi ujung-ujungnya ya pasar murah.

    Lagi-lagi pergeseran makna ….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s