Sekilas Deuterokanonika

Mengapa jumlah kitab Protestan berjumlah lebih sedikit daripada Katolik?

Saya meyakini bahwa sebagian besar dari Anda mengetahui sedikit-banyak penjelasan mengenai perbedaan jumlah kitab tersebut, yang kita kenal ‘tambahan kitab’ itu sebagai deuterokanonika.  Kitab-kitab yang tergolong deuterokanonika adalah kitab Tobit, Yudit, Tambahan Ester, Kebijaksanaan Salomo, Yesus bin Sirakh, Barukh, Tambahan Daniel, 1 Makabe, dan 2 Makabe.

Setelah saya membaca beberapa referensi mengenai hal ini, penjelasannya cukup rumit, mau tidak mau kita harus menilik masa lalu ketika ahli taurat masih disebut-sebut. Saya akan mencoba untuk menyederhanakan penjelasan itu. Seandainya berbeda dengan penjelasan yang pernah Anda dapatkan, Anda tidak perlu bertanya-tanya, secara garis besar pasti ada benarnya pengetahuan Anda. Tulisan ini hanya mengembangkan garis besar itu menjadi garis-garis yang lebih tipis dan bercabang. Tidak ada salahnya menelusuri apa yang pernah didapatkan, siapa tahu bisa menjadi pengetahuan baru, menjadi bahan perbincangan yang menarik. Siapa tahu…

Saya ingin meng-clear-kan terlebih dahulu pengertian tentang deuterokanonika. Sebagian besar dari kita mungkin hanya mengetahui deuterokanonika sebagai kanon yang kedua. Pengetahuan itu perlu direvisi kembali, supaya tidak terjadi kesalahpahaman berkelanjutan. Deuterokanonika (Deutero-kanonika, deutero: kedua kali) merupakan penetapan kanon kedua kalinya oleh Konsili Trente. Jadi bukan kanon dengan edisi kedua, melainkan menyatakan dan menetapkan kembali kanon untuk kedua kalinya.

Penetapan ini dilakukan dengan tujuan untuk menggarisbawahi ‘sebuah perbedaan pandangan’  dengan para tokoh reformasi gereja, salah satunya adalah Martin Luther, yang lebih memilih 66 kitab sebagai dasar ajaran gereja. Luther memilih jumlah tersebut dengan alasan mengikuti kanon Perjanjian Lama versi umat Yahudi (dikenal juga dengan nama kanon Palestina) yang ditulis dalam Bahasa Ibrani. Alasan pihak Yahudi yang saat itu tidak mau menerima ‘tambahan kitab’ adalah umat Yahudi merasa najis dengan kitab yang ditulis menggunakan Bahasa Yunani yang diterjemahkan oleh septuaginta, kelompok yang terdiri dari 70 ahli taurat Yahudi yang memiliki izin menerjemahkan kitab dengan referensi Surat dari Aristeas untuk memenuhi kebutuhan umat Yahudi yang berkebudayaan Yunani di Alexandria (Mesir). Dokumen terjemahan septuaginta itu dianggap oleh umat Yahudi, pemegang teguh kanon Palestina, sebagai dokumen gereja yang tidak diilhami oleh Roh Kudus. Oleh karena itu, mereka menolak ‘tambahan kitab’ tersebut dan menamainya sebagai Apokrip.

Lain halnya dengan Gereja Katolik. Gereja Katolik tidak mengikuti keputusan umat Yahudi yang menolak ‘tambahan kitab’ berbahasa Yunani. Hal ini disebabkan oleh ‘tambahan kitab’ tersebut mendukung doktrin Katolik, diantaranya tentang Roh Kudus, Api Penyucian, dan sejarah penyucian Bait Allah setelah dinajiskan.

Kembali lagi pada persoalan septuaginta yang dinajiskan oleh umat Yahudi. Sebelumnya perlu diberi penekanan antara umat Yahudi yang murni Yahudi dengan umat Yahudi dengan kebudayaan Yunani. Hal ini adalah salah satu letak kerumitan dari penjelasan deuterokanonika ini.

Septuaginta di masa itu memiliki kekuasaan di dalam lingkaran tradisi umat Yahudi berkebudayaan Yunani. Di setiap akhir tahun, umat Yahudi berkebudayaan Yunani merayakan Hanukah, yaitu pesta pendedikasian Bait Allah di Yerusalem setelah perbuatan najis yang dilakukan semasa pemerintahan Raja Antiokhus. Ketika itu, Raja Antiokhus mengeluarkan kewajiban baru untuk memotong dan mengurbankan babi di dalam Bait Allah. Puncak dari kenajisan itu adalah menegakkan patung Dewa Zeus di dalam Bait Allah. Kitab 1 Makabe mencatat sejarah ini.

Setelah Raja Antiokhus dikalahkan oleh Yudas Makabe, Bait Allah segera disucikan kembali untuk melayakkan tempat bagi Bayi Yesus yang nantinya dipersembahkan di sana. Nah, inilah yang menjadi alasan utama bagi Luther untuk menolak memasukkan ‘tambahan kitab’ ke dalam ajarannya. Saya kira kita dapat memahami pemikiran Luther saat itu “Seorang Penyelamat dipersembahkan di Bait Allah yang pernah najis”. Sesuatu yang haram hukumnya! Namun lepas dari semua itu, keputusan Luther untuk tidak menyertakan sejarah penting Bait Allah yang pernah najis, yang pada akhirnya nanti di Perjanjian Baru akan digunakan untuk mempersembahkan Yesus dan dijadikan oleh-Nya prasarana untuk mengajar, menjadi sebuah kekurangan kanon Palestina.

Berbeda dengan Luther, Gereja Katolik tetap mempertahankan kitab-kitab yang pernah ditulis baik dalam Bahasa Ibrani maupun Bahasa Yunani. Oleh karena itulah, Konsili Trente menetapkan kanon untuk kedua kalinya (sekali lagi, bukan kanon edisi kedua) dengan tujuan memastikan apa yang tertulis dalam ‘tambahan kitab’ adalah benar-benar firman Allah.

NB:

Jika ada kesalahan tafsir, mohon maaf…

Pernah dimuat di buletin sebuah GKJ 2 tahun yang lalu.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s