Omonimin//Omonimo(a); C’est Italiano

Awalnya adalah kebuntuan. Buntu mencari nama yang kurang lazim untuk blog ini. Bukan untuk gaya-gayaan. Ini murni untuk label tujuan unik.

Adakah salahku yang setuju dengan keyakinan ‘setiap orang itu ingin dipandang tidak selaras?’ Yah, seperti ada sedikit ruang ketika Z memandang X dan Y meskipun X-Y memiliki status dan tetek bengek yang sama. Continue reading

Posted in Bahasa | Leave a comment

UNSUR-UNSUR INTRINSIK DALAM KARYA SASTRA *)

*Tugas mata kuliah teori sastra ini baru saja selesai digarap tadi pagi. Semoga berguna bagi siapa saja yang punya ketertarikan sastra.
Menurut Rene Wellek dan Austin (1993:37-46), harus ada perbedaan sentuhan antara (cerita) sastra itu sendiri dengan teori sastra, kritik sastra, dan sejarah sastra. Sastra merupakan hasil karya kreatif pemikiran manusia. Secara umum, penciptaan karya sastra adalah implementasi ilmu sastra. Hal ini berbeda dengan teori sastra, kritik, dan sejarahnya yang merupakan cabang atau turunan dari ilmu sastra.
Teori sastra adalah pembelajaran prinsip, kriteria, dan unsur dalam sastra. Teori sastra ini dapat dijadikan titik mula dalam telaah di bidang sastra. Sementara itu, kritik sastra dan sejarah sastra merupakan bagian dari pembelajaran terhadap karya konkret. Ketiga cabang ini memiliki hubungan kesatuan. Artinya, tidak mungkin ada penyusunan teori sastra tanpa lahirnya kritik sastra dan teori sastra terlebih dahulu. Demikian pula, tidak ada penciptaan kritik sastra tanpa teori sastra dan sejarah sastra. (Wellek & Warren, 1993:39).
Jan van Luxemburg, dkk. (1986) mengatakan bahwa ilmu sastra adalah ilmu yang mempelajari teks-teks sastra secara sistematis sesuai dengan fungsinya di dalam masyarakat. Tugas ilmu sastra adalah meneliti dan merumuskan sastra secara umum dan sistematis. Teori sastra merumuskan kaidah-kaidah dan konvensi-konvensi kesusastraan umum.
Ruang lingkup sastra (literature) adalah kreativitas penciptaan, sedangkan ruang lingkup studi sastra (literary studies) adalah ilmu dengan sastra sebagai objeknya. Sastra berpusat pada kreativitas, sedangkan studi sastra berpusat pada ilmu. Dengan demikian, studi sastra merupakan logika ilmiah.
Dalam studi sastra ada tiga cabang, yaitu teori sastra, kritik sastra, dan sejarah sastra. Teori sastra adalah tatanan kaidah yang diimplementasikan dalam analisis karya sastra. Kritik sastra adalah penerapan kaidah-kaidah tertentu dalam analisis karya sastra. Sejarah sastra adalah sejarah perkembangan sastra. Karya sastra adalah seni. Dengan demikian, tiga cabang studi sastra tersebut bersifat seni pula.
Fakta cerita dalam sebuah karya sastra memuat ulasan mengenai tema, alur (sequence), tokoh & penokohan (personages), latar (espace de lieu, temps, et sociale), dan sudut pandang (point de vue). Poin-poin di atas sangat dominan dalam karya sastra sehingga ulasannya merupakan salah satu bagian dari karya sastra itu sendiri.
Menurut Nurgiyantoro[1], unsur-unsur intrinsik adalah unsur-unsur yang membangun karya sastra itu sendiri. Unsur-unsur yang secara faktual inilah yang menyebabkan sebuah karya hadir sebagai karya sastra.
  • TEMA
Tema merupakan ide dasar abstrak yang umum yang berfungsi sebagai fondasi dalam sebuah karya sastra. Tema diciptakan dari saringan motif-motif dalam karya sastra tersebut. Unsur inilah yang menentukan kemunculan peristiwa, konflik, dan suasana tertentu. Oleh karena fungsinya sebagai penopang karya, tema menjadi nyawa dalam cerita serta dasar pengembangan cerita itu sendiri.
  • ALUR (SEQUENCE)
Di Rusia, terdapat penekanan perbedaan antara alur, cerita, dan motif. Menurut Fokkema dan Kunne-Ibsch[2] (1977: 26-30), alur adalah bagian yang sangat bersifat kesusastraan. Kemudian, cerita hanyalah materi mentah yang memerlukan pengolahan dari sang pencipta. Sedangkan motif merupakan satuan terkecil dalam peristiwa di karya tersebut.
Alur adalah penyusunan artistik motif-motif dalam cerita. Alur bukan hanya sekedar susunan peristiwa melainkan juga sarana atau kesempatan bagi pengarang untuk menyela dan menunda penceritaan. Dapat disimpulkan bahwa alur adalah peristiwa yang tersusun berdasarkan tata urutan waktu atau hubungan tertentu. Perlu diketahui, rangkaian peristiwa dalam karya sastra merupakan jalinan sedemikian rupa terhadap waktu, urutan peristiwa itu sendiri, dan hubungan sebab-akibat. Dengan demikian, alur juga memiliki tugas untuk menjelaskan alasan terjadinya rangkaian peristiwa tersebut.
Menurut Bertold Brecht[3], sastrawan hendaknya menghindari alur yang memuat rangkaian peristiwa dengan makna dan nilai-nilai universal yang pasti. Fakta-fakta ketidakadilan dan ketidakwajaran perlu dihadirkan untuk mengejutkan dan mengagetkan pembaca. Pembaca jangan diracuni dengan nilai-nilai palsu.
Secara umum, sebuah karya ditulis dengan 3 teknik alur. Pertama, alur progresif (alur maju), yaitu alur yang membawa pembaca untuk mengikuti kisah secara kronologis. Bahasa sederhananya, peristiwa pertama adalah awal dari peristiwa-peristiwa berikutnya. Dalam Sastra Perancis, alur maju ditandai dengan penggunaan kalimat présent. Kedua, alur regresif (alur mundur), yaitu alur yang mulai tidak dari peristiwa awal, melainkan dari peristiwa-peristiwa sebelumnya, hingga pada titik tertentu (biasanya di titik akhir kisah), peristiwa awal baru diceritakan. Alur mundur dalam karya sastra berbahasa Perancis ditandai dengan penggunaan kalimat passé composé atau imparfait. Ketiga, alur gabungan atau lebih dikenal dengan bingkai cerita. Pengarang yang menggunakan alur ini harus memastikan kejelasan titik-titik rawan pergantian alur, supaya pembaca tidak kesulitan dalam mengikuti rangkaian cerita.
Tahapan alur dalam sebuah karya sastra, sebagai berikut:
  1. Pengenalan situasi
Memperkenalkan para tokoh serta hubungan diantaranya serta menata adegan-adegan.
  1. Pengungkapan peristiwa (kemunculan konflik)
Mengungkapkan peristiwa-peristiwa bermasalah di antara para tokoh.
  1. Klimaks
Terjadinya peningkatan peristiwa bermasalah yang menyebabkan munculnya kesukaran berlebihan bagi tokoh. Bagian ini biasanya menimbulkan perubahan pada beberapa nasib tokoh.
  1. Peleraian
Peristiwa bermasalah mulai mereda dengan campur tangan pihak ketiga atau refleksi pada tokoh-tokoh yang bermasalah.
  1. Penyelesaian
Merupakan bagian akhir cerita.
  • TOKOH & PENOKOHAN (PERSONNAGES)
Tokoh cerita ialah orang-orang yang ditampilkan dalam suatu narasi dengan sifat-sifat yang berbeda. Namun secara umum, tokoh tidak hanya berwujud makhluk hidup. Benda-benda, nilai-nilai, dan kepercayaan yang tidak terlihat (dewa-dewi), juga merupakan bagian dari tokoh. Tokoh memiliki suatu interpretasi sendiri dengan kepemilikan kualitas moral dan kecenderungan tertentu seperti yang diespresikan dalam ucapan dan tindakannya.
Penokohan merupakan gambaran jelas tentang seseorang di sebuah kisah narasi. Penokohan mencakup siapa tokoh tersebut, bagaimana karakternya, dan bagaimana penempatan dan penggambarannya di dalam narasi tersebut. Penokohan berfokus pada teknik perwujudan dan pengembangan tokoh. Dengan demikian, istilah penokohan lebih luas pemahamannya daripada tokoh.
Tokoh terbagi ke dalam beberapa jenis dengan berdasar pada:
  1. Peranannya dalam narasi
  • Tokoh utama
Tokoh ini selalu eksis dan sangat mendominasi suatu narasi.
  • Tokoh bawahan
Tokoh ini hadir untuk mendukung peran dari tokoh utama.
  1. Fungsi penampilannya dalam narasi
  • Tokoh protagonis
Tokoh yang membawa nilai-nilai idealisme yang bermoral.
  • Tokoh antagonis
Tokoh yang bertentangan dengan tokoh protagonis, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Perlu diketahui, penentu seorang tokoh merupakan tokoh protagonis atau antagonis adalah pembaca.
  1. Perwatakannya dalam narasi
  • Tokoh kompleks
Tokoh ini memiliki beragam sisi kehidupan, kepribadian, dan identitasnya. Hal-hal inilah yang sering diungkapkan oleh pengarang.
Contoh: “Sehari-hari dia menyapa pasiennya dari sudut lantai 3 di sebuah Rumah Sakit swasta. Tidak yang tahu, bahkan dirinya, jika ternyata dia penggila darah.”
  • Tokoh sederhana
Tokoh yang hanya memiliki satu sifat tertentu.
  • LATAR (ESPACE DE LIEU, TEMPS, ET SOCIALE)
Dari ulasan di atas, dapat dipahami bahwa alur dan tokoh merupakan bagian penentu latar. Kisah adalah serangkaian peristiwa yang terjadi pada satu atau beberapa tokoh pada waktu dan tempat tertentu.
Menurut Nadjid (2003:25) latar ialah penempatan waktu dan tempat beserta lingkungannya dalam prosa fiksi. Nurgiyantoro (2004:227—233) mengatakan bahwa unsur latar dapat dibedakan ke dalam tiga unsur pokok, antara lain sebagai berikut.
  • Latar Tempat
Latar tempat terpusat pada lokasi terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam sebuah narasi. Unsur tempat yang dipergunakan dapat berupa tempat-tempat dengan nama umum (contoh: sekolah, pasar) dan nama tertentu (contoh: Yogyakarta, Sulawesi).
  • Latar Waktu
Latar waktu mengacu pada masalah ” kapan ” terjadinya peristiwa-peristiwa tersebut. (Contoh: hari rabu, tanggal 25 Agustus, pagi hari).
  • Latar Sosial
Latar sosial fokus pada hal-hal yang berhubungan dengan perilaku sosial masyarakat di suatu tempat. Budaya dalam kehidupan sosial masyarakat; seperti kebiasaan hidup, adat istiadat, tradisi, keyakinan, pandangan hidup, cara berpikir dan bersikap; mencakup berbagai masalah dalam hubungan yang cukup kompleks. Latar sosial juga memiliki hubungan dengan status sosial tokoh yang bersangkutan.
  • SUDUT PANDANG (POINT DE VUE)
Sudut pandang (point of view) merupakan strategi pilihan pengarang untuk mengemukakan gagasan dan ceritanya. Semua unsur dalam sebuah karya sastra adalah milik pengarang. Tafsiran kehidupan, oleh pengarang, disalurkan lewat tokoh dan kisahnya. Sudut pandang adalah cara memandang tokoh-tokoh dalam sebuah narasi dengan menempatkan dirinya pada posisi tertentu.
Ada beberapa pertanyaan yang dapat digunakan untuk membedakan sudut
pandang[4]. Pertanyaan tersebut antara lain sebagai berikut:
  1. Siapa yang berbicara kepada pembaca (pengarang dalam persona ketiga atau pertama, salah satu pelaku dengan ”aku”, atau seperti tak seorang pun)?
  2. Dari posisi mana cerita itu dikisahkan (atas, tepi, pusat, depan, atau berganti-ganti)?
  3. Saluran informasi apa yang dipergunakan narator untuk menyampaikan ceritanya kepada pembaca (kata-kata, pikiran, atau persepsi pengarang; kata-kata, tindakan, pikiran, perasaan, atau persepsi tokoh)?
  4. Sejauh mana narator menempatkan pembaca dari ceritanya (dekat, jauh, atau berganti-ganti)?
Selain itu pembedaan sudut pandang juga dapat dilihat dari bagaimana kehadiran kisah tersebut kepada pembaca; lebih bersifat penceritaan atau pertunjukkan. Berikut pengelompokkan sudut pandang:
  • Sudut pandang orang ketiga: “Dia”
Pengarang adalah seseorang yang berada di luar cerita. Tokoh-tokoh dalam sebuah karya biasanya ditampilkan dengan menyebut nama atau kata ganti, seperti ia, dia, mereka. Hal ini akan mempermudah pembaca untuk mengenali tokoh yang diceritakan atau siapa yang bertindak.
Pengarang dapat bebas menceritakan segala sesuatu yang berhubungan
dengan “dia”. Namun pengarang juga dibatasi “pengertian” terhadap “dia”. Dengan kata lain, pengarang hanya sebagai pengamat saja.
  • Sudut pandang orang pertama: “Aku”
Pengarang terlibat dalam cerita di karya tersebut. Ia adalah “aku” yang
mengisahkan kesadaran dirinya sendiri, mengisahkan peristiwa atau tindakan. Pengarang seolah-olah ikut mengetahui, melihat, mendengar, mengalami, dan merasakan kehidupan “aku”.
  1. “Aku” sebagai tokoh utama.
“Aku” menceritakan berbagai peristiwa dan tingkah laku yang “ku”alami. Aku adalah pusat cerita dan tokoh utama. Semua yang berasal dari luar diri“ku” hanya akan diceritakan jika berhubungan dengan“ku” dan jika “aku” menghendakinya.
  1. “Aku” sebagai tokoh tambahan.
“Aku” hadir membawa cerita. Tidak setiap adegan ada “aku” di dalamnya. “Aku” hanyalah saksi dari dari keberlangsungan cerita.
Dengan hadirnya alur, tokoh, latar, dan sudut pandang yang terangkum dalam sebuah tema, karya sastra menjadi berseni. Pengarang tidak hanya mengolah emosional para tokoh, namun menentukan juga lokasi dan waktu yang tepat untuk mereka. Pengaturan inilah yang membuat alur sebuah karya menjadi artistik dan beda.
Referensi:
http://www.anneahira.com/unsur-intrinsik-sastra.htm
http://www.scribd.com/doc/24492471/Menjelaskan-Unsur-Unsur-Intrinsik-Cerpen
YUSUF, Kamal, M. HUM, Modul Mata Kuliah Teori Sastra, Fakultas Adab, Jurusan Bahasa dan Sastra Arab, IAIN Sunan Ampel Surabaya: 2009.

[1] Pengarang buku Pengkajian Prosa Fiksi.

[2] Kaum formalis Rusia di bidang sastra.

[3] Seorang dramawan Jerman pada tahun 1920-an. Karya-karyanya bersifat radikal, anarkistik, dan anti borjuis.

PS: Thanks buanget buat modul kuliah yang sangat mendalam. =0
Posted in Uncategorized | Leave a comment

ULLEN SENTALU MUSEUM: THE PATH OF JAVANESE FEMINISM

The popular impression of Ullen Sentalu, when people come to visit it, is so feminism. Ullen Sentalu is really deep with the glow of Javanese woman. Located at Taman Kaswargan[1] in Kaliurang, Yogyakarta, Ullen Sentalu was inaugurated officially at March 01, 1997 by KGPAA Paku Alam VII as the governor of Yogyakarta at the time. This private museum was initiated by Haryono family in 1994 and now is managed by Ulating Blencong Foundation. As a Javanese museum, Ullen Sentalu shows a lot of life values.

First, the name of Ullen Sentalu comes from the several letters of Ulating Blencong Sejatine Tataning Lumaku, which is one of the ancient proverbs in Java. It is translated freely as the light of true life for the path of human life, which said that the manners of human in his life are like blencong[2]. When someone walks hurried, fire as the lighting will be flickering as the wind blow. On the contrary, as he walks slowly, the fire will be more stable. The meaning of this proverb is expected to be a compass of life.

Second, Taman Kaswargan philosophically was chosen as the location of Ullen Sentalu. Situated at high slopes of Merapi volcano, Ullen Sentalu had ever become enclosed place for public because Merapi was convinced as a sacred place for Javanese.  The implied meaning of its location was the Javanese culture is believed to have some high values and must be treated with respect. There are some specific requirements to learn it deeply.

At last, Ullen Sentalu shows off the thinking of royalties which is represented by artifacts. The stories behind the artifacts prove that Ullen Sentalu do not only focus on the pure feudalism palace. It is fairer in displaying Javanese culture without intent to give special restrictions of the palace. It could be proved by the love story of GRAj. Koes Sapariyam. Her choice was not permitted by his father, as the king of palace. In Javanese culture, especially in the palace, the princess should be submissive to his father, even for finding her mate. The story of GRAj. Koes Sapariyam was contrary to Javanese culture. The other story is GRAy. Nurul Kamaril Ngarasati Kusumawardhani Surjosoejarso who refused the polygamy principle in her wedding life. In Java, it was common for royalty-men to have more than one wife. The two stories had become the evidences that Ullen Sentalu also displays the controversial attitudes of royalties.

Entirely, Ullen Sentalu has 6 great spaces to be explored, which are:

  1. Entrance Room

Here, there are the epigraph about the story of museum establishment and the statue of Dewi Sri[3] which symbolizes the expectation of prosperity.

  1. Gamelan[4] and Dance Art Room

This room would like to show off that Javanese is managed tightly by tradition and good manners. The beat of gamelan are able to understood as a breath of Javanese philosophy in behaving. The dance paintings of royalty-princess, which show the dance harmonious movements, depict the regularity of life.

  1. Guwa Sela Giri[5]

In the Javanese philosophy, mountain or volcano has a deep meaning. Its contour which is squiggly symbolizes there is no flawless life, even for royalties.

  1. Kampung Kambang[6]
    1. Balai Sekar Kedaton
    2. Royal Room Ratu Mas
    3. Vorstendlanden Batik Room
    4. Batik Pesisiran Room
    5. Putri Dambaan Room
    6. Retja Landa Corridor

This corridor exhibits the statues of god and goddess of Hinduism and Buddhaism which depict the influences of religion system in Mataram Royal before the entry of Islam.

  1. Sasana Sekar Bawana
  • Bedhaya Ketawang Portrait
  • Portrait of Sultan Hamengku Buwono X – GKR Hemas with Prince Charles – Lady Diana.
  • The statue of Javanese bride with Paes Ageng Yogyakarta style.

After all, to close the journey of feminism path in Java, Ullen Sentalu specially provides Wedang Rempah[7], which was believed it can make someone looks ageless.


[1] Freely translated as Paradise Garden.

[2] It was kind of the ancient lighting equipment. In Indonesia itself, it was popular as lampu teplok.

[3] The name of fertility goddess.

[4] It is a set of traditional music instruments from Java and Bali.

[5] It is a cave which is flanked by mountain.

[6] Freely translated as floating village.

[7] It is a type of drink which is made from herb plants.

*Share the experience of exploring Ullen Sentalu; special for Rotaract Tugu Yogya Bulletin.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

ONE WORD

 

Just one word I want to say to you

But it’s not that easy to

I feel so heavy to whisper it full of softness

Although I can’t go back on

 

 

Just one word I want to say to you

But I have no power to be honest to you

You never laid your eyes on me

Tell me, how do I must express?

 

When my heart is tired longing for you

and my steps is starting leaving your path

I feel as I lost my eternal hope

And…

I can’t arrange that word anymore

Until the time..

 

When the word is lost

I’m letting go the memory of your warm touch

I give my faded smile to you for the last time

Whenever your shadow blasts on my sight

I remember the word

But I have no more power to remember

All that I can hear is my confession …

 

Just one word I want to say to you

Just one love I want to give to you

 

*021008

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Iri, Iri, dan Iri *)

Aku iri, iri dengan malam yang mudahnya merangkulmu, membuatmu terdiam sejenak memikirkan apa yang kan terpikir. Segitu praktisnya malam merayapi kehidupan malammu, menghalangiku untuk lebih lama denganmu.

Namun di malam sepekat apapun, saat kuraba dadaku, kutemukan kau di sana, membuatku berani menantang apa saja, membuatku selalu pulang, dimana kau membuka gerbang, tersenyum, dan aku jatuh dalam pelukanmu.

Ketika malam itu berubah menjadi sebuah kecerahan untukmu, setidaknya aku pernah menemani di malam pekatmu, di setiap bagian sulit yang terangkai oleh waktu dan egois diri.

Di malam pekat saat lekat menyesak rasa, aku merindu jadi bagian hatimu, menyesap berat hampa yang menekan jiwamu, hingga kurasakan bilur yang merisaukanmu. Lantas kita beterbangan dengan sayap kapas kala fajar membentangkan ciuman pertama. kesana, ya ke sana kita terbang.

Dunia yang menunjukkan kesombongannya menjadi alur yang mengiringi perjalanan waktu kita, menjadi saksi bisu atas anugerah yang pernah dirasa indah dan selalu indah hingga tak cukup waktu lagi yang mampu membentangkan keindahan dan kesempurnaannya.

 

*Hanya sedang berlatih berpuitis-puitis.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Lama Tidak Menulis = MACET MERANGKUM IDE

I have no idea. No idea how to improve a concept into final writing; so long since I had finished the last one around 3 weeks ago.

3 minggu!!!

Seharusnya tidak terlalu lama 21 hari itu, mengingat hadirnya untaian kegiatan yang sampai sekarang masih berkelanjutan. Upzzz… untaian? Heheheh… Itu memang bukan kegiatan berpuisi, namun kegiatan yang ada hampir seperti puisi. Bersenandung dalam setiap langkahnya. :p

Bagi yang membaca tulisan ini, jangan dipikirkan mau kemana si pencipta berangkat. Saya sedang gak (mau) berangkat kemana-mana kog. Cuma duduk mengetik dan mengalor-ngidul. Bahasa gaulnya: warming up. Pemanasan setelah 3 minggu gak olahraga jari dan otak.

Nah jari dan otak. Dua hal yang ga bisa dipisahkan dari kegiatan menulis. Menulis di sini berarti benar-benar menulis lho. Mencari ide, mengembangkannya, dan menuangkannya dalam bentuk tulisan jadi. Kalo di kampus dan sekolah, sebagian besar kegiatannya : menyalin. Hehehehe… hayo jujur : adakah diantara kalian yang menulis penjelasan sang guru sambil berpikir? Atau berprinsip menulis -menyalin- dulu lha baru ntar berpikir (walau ga jelas ‘ntar’ tu kapan)? Hihihihi… :))

Judul tulisan ini; LAMA TIDAK MENULIS = MACET MERANGKUM IDE; menempatkan saya pada status itu banget. Status saya saat ini lho (berharap besok-besok ga kayak gini lagi). Macet bener-bener macet… Karena itu saya ngalor-ngidul dulu di sini sebelum memasuki kefokusan.

Four days ago, I got an assignment to re-write a long essay. That essay should be briefer than previously. Awalnya ga merasa berat sich. Pikir saya, hanya merangkum essay, apa susahnya? Nah 20 menit yang lalu, begitu selesai membaca keseluruhan essay dan siap merangkai kata, mandeklah mau ngetik apa? Akhirnya, satu paragraf selesai dalam 15 menit meskipun tampilannya belum sempurna di mata saya (shock juga waktu tau 15 menit cuma jadi 1 paragraf). Tapi masalah berlanjut di paragraf kedua. Duh, konjungsi apa yang tepat untuk menyambungkan kehidupan 2 paragraf ini? Bingung lagi… setelah dirasa-rasa dan ditimbang-timbang, saya memang sangat memerlukan pemanasan.

Il faut que j’exprime toutes sortes d’idées déraisonnablement. Et ici, je fais ça!

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Anatole France: Setia Menegakkan Humanisme Melalui Skeptisisme dan Ironi *)

Tidak banyak yang tahu tentang sastrawan Anatole France, oleh karena karya-karyanya yang dilarang Roma. Di tulisan kali ini, saya ingin menghadirkan sudut pandang yang berbeda untuk sosoknya.

*Adalah salah satu tugas mata kuliah Sejarah Sastra Perancis.

 

“All I can say is that what I have done, I have done in good faith. I repeat: I love truth. I believe that humanity has need of it; but surely it has a much greater need of falsehood, which flatters and consoles and gives infinite hopes. Without falsehood humanity would perish of despair and annul.”[1]

Begitu tulis Anatole France (1844-1924) di paragraf terakhir salah satu bukunya, “La Vie en Fleur”, sesaat sebelum dia menerima hadiah Nobel Sastra pada tahun 1921. Kata-kata tersebut juga mencerminkan kepribadian Anatole France yang terungkapkan di dalam karya-karya sepanjang hidupnya. Sebagai tokoh sastra Perancis yang paling berpengaruh pada abad ke-19 sampai awal abad ke-20, France memiliki gaya skeptis – kadang-kadang ironis – dikemas secara unik, gamblang, serta menyentuh. Dari ruang kerjanya di Avenue du Bois, Anatole France menyuarakan idealismenya secara konsisten, tegas, dan jelas dalam karya-karyanya berupa novel, puisi, esai, serta drama.

Kebesaran France tampak dari tulisan-tulisannya yang sebagian besar termasuk dalam kategori ­best seller books saat itu. Para kritikus memujinya sebagai penulis Perancis yang memiliki kepribadian kuat serta banyak berkontribusi pada perkembangan pemikiran Bangsa Perancis dan Eropa pada umumnya di awal abad ke-20. Beberapa pengamat bahkan menyejajarkan Anatole France dengan Voltaire[2]. Tak heran, jika Time Magazine[3] menyebut France sebagai filsuf, seniman, dan guru bangsa; bahkan guru bangsa terakhir yang masih setia menyuarakan hal-hal yang seharusnya tidak dilupakan oleh orang-orang tatkala peradaban beranjak menuju kulminasinya. Encyclopedia of World memuji France sebagai “… combining classical purity of style with penetrating flashes of irony, he is a major figure in the tradition of liberal humanism in French literature”[4].

Kelihaian dan kepekaan pemikiran France saat menggambarkan kemanusiaan dan ironi sudah terpupuk, bahkan sebelum menulis debut novelnya, “Le Crime de Sylvestre Bonnard”[5], yang mengangkat namanya sebagai penulis papan atas saat itu. Sebelumnya, France (kerap kali dengan memakai nama samaran Piere Noziere) sudah menunjukkan ketertarikannya dalam humanisme. Hal ini tampak pada karya-karyanya sebelum “Le Crime de Sylvestre Bonnard”, salah satunya dia menuliskan: “I think that men in general are worse than they seem. They do not show themselves as they are; they hide when they commit deeds which will cause them to be hated or despised, and show themselves when they act in a manner which will be approved or admired. I have rarely opened a door inadvertently without finding something that made me look, with pity on humanity, with disgust of horror”[6].

Secara umum, kehidupan Anatole France dapat dirunut menjadi 3 periode, yakni (1) kelahiran dan karya-karya awalnya; (2) masa-masa produktif; dan (3) masa-masa kematangan. Peristiwa-peristiwa dalam kehidupan pribadi, politik, sosial, serta proses pencarian Anatole France sangat mempengaruhi karya-karya yang dihasilkannya.

Kelahiran dan Karya-karya Awal (1844-1877)

Tumbuh di lingkungan yang akrab dengan dunia buku, Anatole France lahir di Quai Malaquais, Paris, pada tanggal 16 April 1844 dengan nama Jacques Anatole François Thibault.  Namun ia tumbuh di Quai Voltaire No. 9, hanya beberapa rumah dari tempat lahirnya Voltaire 150 tahun sebelumnya. Ayahnya – François Noël Thibault –  adalah seorang Katolik yang taat, royalis yang setia, murah hati, belajar secara otodidak, serta hidup dari mengelola toko buku yang oleh para koleganya disebut “Librarie de France”, mungkin karena toko ini banyak menjual buku-buku tentang Revolusi Perancis. Konon, dari nama toko buku inilah Anatole France mengambil nama belakang[7].  Akan tetapi sumber lain mengatakan bahwa nama belakang itu diambil dari julukan “le père France” yang diberikan kepada ayah Anatole France oleh para rekannya, tentara pengawal Charles X[8].

Suasana rumah yang penuh buku serta gaya pendidikan yang diterapkan ayahnya menyebabkan si kecil Anatole France leluasa belajar dari berbagai bacaan yang tersedia di rumah maupun toko buku ayahnya. Perkenalannya dengan banyak pelanggan “Librarie de France” juga menambah wawasan France, lebih lagi tidak sedikit dari pelanggan tersebut adalah para akademisi maupun tokoh-tokoh terkemuka di Paris. Di kemudian hari, hubungannya dengan orang-orang ini berpengaruh cukup besar di dalam karya-karya France.

Anatole France kemudian menamatkan pendidikan formalnya di Collège Stanislas, sebuah sekolah Katolik swasta yang dikelola oleh Ordo Jesuit, dan dikhususkan bagi anak laki-laki. Namun, justru di sekolah inilah muncul ketidaksukaan France terhadap gereja. Beberapa sumber, seperti Encyclopedia of World Biography, menuliskan kebenciannya terhadap gereja sebagai “a lasting dislike”[9], yang tidak bakal disatukan lagi. Di sekolah ini France tumbuh sebagai murid yang prestasinya biasa-biasa saja serta tidak menonjol, bahkan sempat beberapa kali gagal ujian sarjana muda, sampai akhirnya ia lulus pada usia 20 tahun (tahun 1864). Dia sempat pula bersekolah di École des Chartes. Kemudian selama 20 tahun berikutnya, France berpindah-pindah pekerjaan dengan beragai posisi. Namun salah satu hal yang pasti, dia selalu menyisihkan waktu untuk menulis.

Sekitar tahun 1860-an, Anatole France memulai karier sebagai asisten ayahnya. Kemudian, dengan memanfaatkan relasi-relasinya di kalangan penerbit, Anatole France berganti-ganti profesi sebagai asisten penerbit dan petugas katalog di Bacheline-Deflorenne dan di Lemerre. Bahkan ia juga bekerja sebagai guru, selain sempat menjadi asisten editor setelah ayahnya pensiun. Belakangan, pada tahun 1867, France juga dikenal sebagai wartawan kesusasteraan yang banyak menulis artikel, esai, maupun resensi.  Salah satu puisinya, “Les Légions de Varus”, dimuat oleh Gazzette rimée pada tahun ini juga.

Pada tahun 1868, buku pertama France lahir. Buku ini (“Alfred de Vigny”) merupakan tinjauan atas karya-karya Alfred de Vigny[10], seorang pujangga, novelis, sekaligus penulis lakon yang terkenal saat itu. Setelah itu, France menghasilkan beberapa buku lagi berupa kumpulan puisi dan drama. Namun, buku-buku tersebut tidak begitu meraih sukses, walaupun secara umum diapresiasi oleh para pembacanya. Beberapa buku tersebut antara lain “La Part de Medeleine”[11], “Poèmes Dorés”[12], dan “Les Noces Corinthiennes”[13]. Pada saat itu, France banyak menulis esai mengenai berbagai pujangga Eropa, dari Apuleius[14] sampai Zola[15], serta berbagai kritik. Belakangan, karya-karya tersebut diterbitkan ulang setelah France terkenal, yakni “Le Génie Latin” (1913) dan “La Vie Littéraire” (1888-1892)[16]. Selain itu, France juga banyak memberi analisis karya-karya dan pandangan filosofis dari Balzac[17], Baudelaire[18], serta Dumas[19]. Tulisan-tulisan awal Anatole France ini sudah cenderung skeptis-humanis. Esai-esai France – menurut para kritikus – tampak lugas, jujur, apresiatif, dan dalam beberapa hal elegan. Namun demikian, karya-karya ini masih memiliki beberapa kelemahan, diantaranya adalah kurangnya orisinalitas dan gaya yang kuat sehingga kurang mampu menembus perhatian pembacanya. Hal ini nampak nyata pada “Le Génie Latin” dan “La Vie Littéraire”[20].

Sementara itu, pada tahun 1870-1871, Perang Franco-Prusian[21] meletus. Bergabung sebagai tentara, peperangan ini meninggalkan kenangan pahit dalam benak France. Pengepungan kota Paris, kesengsaraan masyarakat, dan terutama tragedi pemberontakan Komune Paris (1871)[22] memperkaya nuansa ironis dalam karya-karya France selanjutnya.

Dengan berbagai peristiwa yang terjadi di Paris, tahun-tahun ini merupakan masa Anatole France mencari bentuk yang pas sesuai dengan bakat dan kepribadiannya. Misalnya, setelah sempat berusaha mengabdikan diri untuk menulis puisi, debutnya sebagai penyair segera ditinggalkan setelah melihat bahwa puisi-puisinya kurang mendapat apresiasi.

Namun demikian, sebagai sastrawan yang cukup produktif, France menjadi anggota kelompok penyair Parnassian, Gautier, Catulle, Mendes, dan lain-lain[23]. Bahkan pada tahun 1875, ia duduk di dalam komite yang menyusun “The 3rd Parnasse Contemporain Compilation”.  Pada tahun ini pula, surat kabar “Le Temps” meminta France menulis kritik sastra kontemporer di kolom mingguannya. Kumpulan tulisan inilah yang di kemudian hari diterbitkan menjadi “La Vie Littéraire”. Karier France kian menanjak tatkala ia menerima pekerjaan sebagai pustakawan perpustakaan Senat Perancis pada tahun berikutnya (1876). Pekerjaan yang kemudian digelutinya selama 14 tahun ini memberinya banyak kesempatan untuk mengasah kemampuan France sehingga ia semakin produktif menghasilkan karya-karya yang lebih baik.

Seiring dengan semakin mapannya kehidupan ekonomi dan sosial Anatole France, dia memutuskan untuk menikahi Valérie Guérin de Sauville, putri seorang warga yang terpandang, pada tahun 1877. Kumpulan cerita pertamanya berjudul “Jocaste et Le Chat Maigre” diterbitkan dua tahun kemudian, pada tahun 1879. Pernikahannya dikaruniai seorang anak, Suzanne, pada tahun 1881.

Masa-masa Awal Kepopuleran France (1879-1896)

“To accomplish great things we must not only act, but also dream, not only plan, but also believe.” (Anatole France on Accomplishments.)

Kata-kata di atas seakan merujuk pada kesuksesan karier Anatole France yang diraih bukan sebagai kebetulan semata, namun sebagai hasil kerja keras dan harapan. Novel berjudul “Le Crime de Sylvestre Bonnard” yang diterbitkan pada tahun 1881 merupakan kesuksesan pertama Anatole France. Novel yang menceritakan seorang sarjana tua bernama Sylvester Bonnard ini dipuji karena kecemerlangannya menampilkan kisah secara elegan, protagonis, skeptis, namun tetap optimis; walaupun ironi tersebar di seluruh cerita. Ironi dalam novel ini ditampilkan secara lebih halus, berlawanan dengan realisme “brutal” Èmile Zola. Tokoh Sylvester Bonnard ini pun merupakan perwujudan pemikiran-pemikiran France yang mendalam. Novel ini berhasil mendapatkan penghargaan dari Académie Française[24]. Sayangnya, “Les Désirs de Jean Servien” yang terbit pada tahun 1882 tidak meraih kesuksesan.

Karya berikutnya yang patut mendapat perhatian adalah novel autobiografi, terbit di tahun 1885, “Le Livre de Mon Ami”. Novel-novel autobiografi lainnya adalah “Pierre Nozière” muncul pada tahun 1899, “Le Petit Pierre” (1918), dan “La Vie au Fleur (1922).

Sementara itu, resensi-resensi yang ditulis France oleh para kritikus dianggap sangat skeptis seperti tulisan Renan[25], namun jauh lebih subjektif.

Pada sekitar akhir dasawarsa 1880-an, tulisan-tulisan France sempat berubah menjadi cukup berlawanan dengan gaya naturalisme Zola. Pada saat itu novel-novel France diwarnai oleh roman-roman sejarah yang memikat pembaca dengan pesona dan kejayaan peradaban masa lalu. Salah topik satu favorit France saat itu adalah beralihnya kepercayaan masyarakat dari Pagan menjadi Kristen. Dengan skeptis, France banyak mengkritik gereja melalui karya-karyanya. “Balthazar”, terbit pada tahun 1889, menceritakan kisah hidup Balthazar, salah satu dari Orang Majus[26]. “Thaïs” yang terbit pada tahun 1890 menceritakan pertobatan seorang pelacur di Alexandria (Mesir) pada abad-abad pertama, dengan mengambil setting perkembangan keyakinan Kristen saat itu. Mengisahkan seorang pelacur bernama Thaïs dan rohaniawan bernama Paphnuce, novel ini dapat diperbandingkan dengan “La Tentation de Saint Antoine” (1874) karya Gustave Flaubert[27]. Sedangkan “L’Etui de Nacre” (1892) adalah kisah ironis dari seorang pertapa dan faun[28].

Pada tahun 1893, novel Anatole France, “La Rôtisserie de la Reine Pédauque” sangat populer di masyarakat dan banyak didiskusikan oleh berbagai kalangan. Novel ini mengungkap pernik-pernik dan kisah kehidupan abad ke-18 secara mendalam, luas, detil, dan memikat. Melalui novel ini, France secara khas menyindir kepercayaan masyarakat mengenai hal-hal gaib. Tokoh utama novel ini, Abbé Coignard, dikisahkan sebagai orang  yang sarkastis, kompleks, namun menarik hati. Tokoh ini muncul lagi di novel-novel France berikutnya; “Les Opinion de Jérôme Coignard” (1893) dan seri “Le Puits de Sainte Claire” (1895). “Les Opinion de Jérôme Coignard” merupakan kritik sosial yang dengan nuansa fin de siècle[29] yang kental, penuh dekadensi moral dan penyangkalan diri. Nuansa ini sempat populer di akhir abad 19.

Melalui roman-tragedi berjudul “Le Lys Rouge” (1894), France kembali lagi menekuni topik yang konvensional sesuai dengan zamannya[30]. Novel yang diklaim mendapat kesuksesan tertinggi ini mengisahkan asmara kaum menengah atas dan banyak mengambil setting di Italia. Berlawanan dengan itu, kritik sosial France muncul pertama kali pada tahun berikutnya melalui buku berjudul  “Le Jardin d’Épicure”. Buku ini berisi serangkaian artikel yang pernah ditulis oleh Anatole France. Artikel-artikel tersebut berisi kritikan terhadap kehidupan, moral, dan sikap masyarakat Perancis waktu itu. Sindiran-sindiannya yang tajam serta skeptis diimbangi dengan pemikiran France yang lugas dan mencerahkan.

Sementara itu, kehidupan pribadi Natole France juga berubah. Pada tahun 1890, ia berhenti dari pekerjaannya sebagai pustakawan Senat. Hubungannya dengan Valérie Guérin berantakan sebagai akibat dari perselingkuhannya dengan Mme. Arman de Caillavet. France dan Guérin akhirnya bercerai pada tahun 1893. Kisah asmaranya dengan de Caillavet inilah yang rupanya memberi inspirasi dalam  “Thaïs” (1890). Sementara di dunia karier, pada tahun 1896 Anatole France terpilih sebagai anggota Académie Française yang cukup bergengsi.

Karya-karya di Masa-masa Kematangan France (1896-1922)

Terpilihnya sebagai anggota Académie Française merupakan puncak karier France di dunia kerja. Demikian pula dengan karya-karyanya. Dengan berbagai kemudahan dan jejaring yang semakin terbangun luas, pemikiran-pemikiran France mulai beranjak pada permasalahan nyata yang terjadi di Perancis maupun Eropa pada umumnya. Kematangan dan kritik sosial France yang tertuang dalam “Le Jardin d’Épicure” kembali menemukan bentuk di dunia fiksi. Pandangan politik France-pun cenderung berangsur menjadi sosialis.

Sepanjang tahun 1897-1901, France menghasilkan 4 volume prosa yang tergabung dalam kronik/tetralogi berjudul “L’Histoire Contemporaine” dengan tokoh utama seorang guru bernama Professor Bergeret (atau Monsieur Bergeret). M. Bergeret memiliki karakter yang kuat serta dipercaya sebagai tokoh fiksi paling terkenal di dunia kesusasteraan Perancis.  “L’Histoire Contemporaine” pada dasarnya merupakan berupa laporan fiktif dari tokoh bernama Belle Epoque. Di dalamnya, France memasukkan unsur-unsur kritik sosial masyarakat Perancis, terutama berkaitan dengan kasus Dreyfus[31] yang sedang hangat-hangatnya saat itu.  Tetralogi ini terdiri dari “1: L’Orme du Mail” (1897), “2: Le Mannequin d’osier” (1897), “3: L’Anneu d’améthyste” (1899), dan “4: M. Bergeret à Paris” (1901).

Secara khusus, Anatole France berperan besar di dalam kasus Dreyfus, sebagai orang pertama yang menandatangani Manifesto Émile Zola yang mendukung bahwa Alfred Dreyfus tidak bersalah. Kasus Dreyfus yang dimulai pada tahun 1896 ini sangat menarik perhatian publik dan menyebabkan kegalauan politik dan sosial di Perancis. Di tengah kegalauan tersebut, France dengan bahasanya berusaha mengurai dengan jernih melalui “L’Histoire Contemporaine”.  Bahkan tetraloginya yang terakhir, “4: M. Bergeret à Paris”, France dengan lugas mengisahkan kasus Dreyfus ini dengan lebih tajam. M Bergeret dalam kisah ini dianggap mewakili pandangan rakyat awam Paris dalam memandang berbagai persoalan sosial, termasuk kasus Dreyfus. Pada tahun 1901 pula, France menulis kisah berjudul “Crainquebille”, yang dengan humor-satirnya memparabelkan kasus Dreyfus melalui kisah vonis tidak adil atas penjaja keliling jelata yang lugu dan tidak berbahaya. Hal ini membuktikan konsistensi dan objektivitas Anatole France yang setia berpegang pada humanisme liberal namun tetap tanpa meninggalkan sosialismenya.

Karya biografi sejarah Anatole France berjudul “Vie de Jeanne d’Arc” (1908) merupakan 2 jilid biografi Jeanne d’Arc. Namun, buku ini mendapat banyak serangan kritik dari pihak gereja dan kaum sejarahwan. Mereka mempertanyakan keakuratan sejarah yang dituliskan oleh France, serta tidak menerima penggambaran realistik Jeanne d’Arc.

Karya France berikutnya adalah “L’lle des Pingouins”. Diterbitkan pada tahun 1908, novel satir ini mengisahkan transformasi seekor pinguin menjadi manusia akibat seorang pendeta rabun (Abbot Mael) yang keliru membaptis. Kaya akan ejekan pada situasi politik Perancis, novel ini dianggap sebagai satu-satunya novel satir Perancis yang dapat disandingkan dengan “Candide” karya Voltaire. Pada tahun 1912, France menerbitkan “Les dieux on soif”. Novel berlatar belakang revolusi Perancis ini mengisahkan seniman muda, Évariste Gamelin, yang mencari jati diri serta memperjuangkan idealismenya. Pencariannya mendekati akhir saat ia akhirnya bergabung menjadi anggota pengadilan revolusioner, saat kebaikan dan kelembutan hatinya berubah menjadi fanatisme yang kejam serta haus darah.

Sementara itu, novel berikutnya yang berjudul “La Revolte des Anges” (1914) mengisahkan pemberontakan malaikat penjaga bernama Arcade melawan kelaliman kekal dengan tujuan menggulingkan kekuasaan Tuhan. Novel ini tidak sesukses novel-novel sebelumnya. Bersama “Vie de Jeanne d’Arc” , novel berbumbu roman ini kerap dianggap subversif oleh gereja pada masa itu.

Akhirnya, pada tahun 1922, karya-karya Anatole France dimasukkan dalam Index Librorum Prohibitorum atau daftar buku-buku yang dilarang oleh gereja Katolik Roma. Hal ini disebaban pemikiran France dianggap kerap tidak sesuai dengan keyakinan gereja dan dapat merusak mental generasi muda. Namun akhirnya pada tahun 1966, pelarangan ini dihapuskan.

Anatole France terus berkarya di masa tuanya, walaupun kehidupan pribadinya semakin rumit dan berkali-kali menyebabkan France jatuh ke dalam kesedihan. Namun beberapa permasalahan pribadi ini juga merupakan akibat dari kesalahannya sendiri. Hubungannya dengan Mme. Armand de Caillavet rusak pada tahun 1904 ketika France berselingkuh dengan wanita lain lagi. De Caillavet yang menguntungkan France sehingga ia memimpin salon[32] Armand de Caillavet selama bertahun-tahun akhirnya meninggal pada tahun 1910 setelah sakit parah. Sepeninggal de Caillavet, kehidupan asmara France menjadi simpang siur. Ia menikahi penjaga rumahnya, Emma Laprevotte, setelah terjadi affair yang kompleks. Sementara itu, ia juga menjalin hubungan dengan seorang wanita Amerika yang akhirnya bunuh diri pada tahun 1911. Kesedihannya mengalami puncak saat Suzanne, putri yang paling dikasihi hasil pernikahannya dengan Valérie, meninggal pada tahun 1917[33].

Pandangan hidup dan politik France pun bergeser menjadi semakin “kekiri-kirian”. Bahkan ia sempat menjadi pendukung Partai Komunis Perancis, walaupun menjelang akhir hayatnya ia kembali berubah pikiran.

Walaupun demikian, pengakuan internasional akan karya-karya France terwujud dalam penghargaan Nobel di bidang sastra yang diberikan pada Anatole France pada tahun 1921. Pengantar penganugerahan Nobel tersebut menyebutkan “in recognition of his brilliant literary achievements, characterized as they are by a nobility of style, a profound human sympathy, grace, and a true Gallic temperament”[34].

Pada tahun 1923, seiring dengan memburuknya kondisi kesehatannya, Anatole France pindah rumah ke daerah Tours. Sesaat menjelang akhir hidupnya, salah satu dari dokter berusaha membesarkan hati France dengan mengatakan bahwa dia akan baik-baik saja. Namun, France menjawab dengan senyum yang lemah, “Kalau begitu, demi Tuhan, beri aku beberapa penyakit agar aku dapat meninggal dengan lebih cepat.” Barangkali itu adalah kata-kata terakhir Anatole France[35].

Akhirnya, Anatole France wafat pada usia 80 tahun pada tanggal 12 Oktober 1924 di Tours, Perancis.  Ia dimakamkan di Neully-sur-Seine Community Cemetery di dekat Paris. Walaupun tidak diadakan upacara pemakaman secara nasional, pemakamannya dihadiri oleh para petinggi pemerintahan Perancis. Pada saat yang sama para pengunjung Paris Opera mengenang wafat France dengan mendengarkan penampilan “Thaïs”, performance musik yang diilhami oleh karya France.

Anatole France telah meninggal, namun berbagai karya dan pemikirannya telah mewarnai perkembangan dunia sastra sekaligus filsafat dan sosial di Perancis, bahkan dunia. Koleksi buku-buku karya France pun diterbitkan dalam 25 volume pada tahun 1925 dan 1935. Berbagai kontroversi mengenai sikap Anatole France merupakan daya pikat sekaligus jebakan bagi generasi muda yang secara harafiah berusaha mengikuti jejaknya. Bagi generasi muda ini, France dalam salah satu tulisannya memberi nasihat: “The whole art of teaching is only the art of awakening the natural curiosity of the young mind for the purpose of satisfying it afterwards” (Anatole France on Curiosity)[36].


Daftar Pustaka

  1. Gorman, Herbert S., Anatole France, Nobel Prize Winner, New York Times, page 43, November 20, 1921.
  2. http://nobelprize.org/nobel_prizes/literature/laureates/1921/france-bio.html
  3. http://en.wikipedia.org/wiki/Anatole_france
  4. http://id.wikipedia.org/wiki/Anatole_France
  5. http://www.quotationspage.com/quotes/Anatole_France/
  6. http://nobelprize.org/nobel_prizes/literature/laureates/1921/
  7. http://www.answers.com/topic/anatole-france
  8. http://id.wikipedia.org/wiki/Skeptisisme
  9. http://www.bookrags.com/quotes/Anatole_France

10.  http://www.bookrags.com/biography/anatole-france/

11.  http://www.time.com/time/magazine/article/0,9171,769089,00.html

12.  http://id.wikipedia.org/wiki/Peristiwa_Dreyfus

13.  http://en.wikipedia.org/wiki/Dreyfus_Affair

14.  http://en.wikipedia.org/wiki/Index_Librorum_Prohibitorum

15.  John, S. Beynon, Anatole France, 2001, Columbia Encyclopedia

16.  Longman Dictionary of Contemporary English, 3rd Edition, Pearson Education, 2000.

17.  Microsoft Encarta Encyclopedia 2009.

18.  Microsoft Student 2009 [DVD], France, Anatole, Microsoft Corporation, 2008.

19.  Orbituary of Anatole France: The Smiling Sceptic, Irony and Humour, The Times, October 13, 1924.


[1] Teks tersebut aslinya ditulis dalam Bahasa Perancis. Versi Bahasa Indonesia-nya kira-kira seperti berikut: “Aku hanya bisa mengatakan bahwa apa yang telah kukerjakan telah dikerjakan dengan keyakinan yang baik. Aku ulangi: aku mencintai kebenaran. Aku percaya bahwa kemanusiaan membutuhkan hal itu, namun tentu saja ia (kemanusiaan) sangat jauh lebih membutuhkan kesalahan, yang merayu dan menghibur serta memberi harapan tak terbatas. Tanpa kesalahan, kemanusiaan akan binasa dalam keputusasaan dan kegagalan” [penerj.: penulis]. Dikutip oleh Herbert S. Gorman dari paragraf terakhir “La Vie en Fleur” sebelum buku tersebut diterbitkan. (Anatole France, Nobel Prize Winner, by Herbert S. Gorman, New York Times Nov. 20, 1921 pg. 43)

[2] Nama aslinya François-Marie Aoruet (1694-1778), penulis Perancis sekaligus tokoh intelektual yang berpengaruh pada “Abad Pencerahan”.

[4] “ … menggabungkan gaya klasik yang murni dengan sentuhan yang dalam pada ironi, dia (Anatole France) adalah tokoh utama kebebasan perikemanusiaan di dalam literatur Perancis” [penerj.: penulis]. Sumber: http://www.bookrags.com/biography/anatole-france/

[5] Diterbitkan pada tahun 1881. Edisi Bahasa Inggrisnya berjudul “The Crime of Sylvestre Bonnard”.

[6] Terjemahan bebasnya: “Aku pikir kebanyakan orang-orang adalah lebih buruk daripada kelihatannya. Mereka tidak menunjukkan diri mereka sebagaimana adanya; mereka sembunyi tatkala melakukan perbuatan yang akan menyebabkan mereka dibenci atau dipandang rendah, serta menampilkan diri mereka sendiri saat mereka melakukan perbuatan baik yang akan disetujui bahkan dipuji. Aku lantas jarang membuka pintu rumahku dengan tidak was-was, tanpa menemukan sesuatu yang membuatku melihat, dengan rasa sayang pada kemanusiaan, dengan rasa muak pada kengerian” [penerj.: penulis]. Anatole France, Nobel Prize Winner, by Herbert S. Gorman, New York Times Nov. 20, 1921 pg. 43.

[7] Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Anatole_France, diunduh pada tanggal 14 November 2010.

[10] Alfred de Vigny adalah salah satu tokoh gerakan romantisisme di Perancis pada abad ke-19. Karya-karyanya diterbitkan setelah dia meninggal dalam sebuah kompilasi berjudul “Les Destinées” (1864).

[11] Adalah puisi, diterbitkan pada tahun 1869 oleh Le Parnasse Contemporain.

[12] Kumpulan puisi, 1873. Edisi Bahasa Inggris-nya berjudul “The Bride of Corinth”.

[13] Prosa liris, 1876.

[14] Lucius Apuleius (125-170 M), seorang filsuf dan penulis Romawi, kelahiran Madaros, Numidia (sekarang Algeria).

[15] Émile Édouard Charles Antoine Zola (1840-1902), novelis Perancis dan pendiri gerakan Naturalisme.

[16] “La Vie Littéraire” merupakan kumpulan esai kritis Anatole France yang dimuat di surat kabar “Le Temps”, diterbitkan menjadi 4 volume.

[17] Jean Louis Guez de Balzac (1597-1654), penulis esai dan kritik dari Perancis.

[18] Charles Pierre Baudelaire (1821-1867), penulis puisi dan kritik dari Perancis. Pendiri “Symbolist School”.

[19] Alexandre Dumas (1802-1870), novelis dan penulis lakon dari Perancis. Dumas merupakan tokoh pada periode Romantisisme Eropa, terutama Perancis. Dijuluki sebagai père Dumas, novel-novelnya yang terkenal antara lain Les Trois Mousquetaires (1844) dan Le Comte de Monte-Cristo (1844).

[21] Perang antara Perancis dengan Kerajaan Prusia yang disebabkan keinginan Prusia (melalui pernyataan Bismarck) untuk mengontrol Perancis yang saat itu berada di bawah Napoleon III.  Dalam perang ini tentara Perancis kalah dan Napoleon III ditangkap, serta Perancis diduduki Jerman sampai tahun 1873.  Perang diakhiri dengan Perjanjian Frankfurt (10 Mei 1871) yang merugikan Perancis.

[22] Peristiwa pemberontakan kaum republikan dan sosialis radikal di Paris yang menolak Perancis kembali ke sistem monarki pada tanggal 17 dan 18 Maret 1871. Pemberontakan ini ditumpas oleh tentara Prusia secara membabi buta dengan korban sampai 20.000 jiwa. Sebagian besar terbunuh pada “The Bloody Week”, tanggal 21-28 Mei 1871.

[23] Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Anatole_France, diunduh pada tanggal 14 November 2010.

[24] Didirikan oleh Kardinal Richelieu pada tahun 1635, lembaga ini menerapkan peraturan, standar, dan memberikan apresiasi dunia sastra dan bahasa Perancis. Salah satu tujuan pertama lembaga ini adalah menyusun Kamus Bahasa Perancis (1694). Bersama 5 lembaga lainnya, kini lembaga tersebut dikenal sebagai Institute de France. Pada abad 19, lembaga ini merupakan salah satu lembaga paling bergengsi di dunia sastra Perancis. (Sumber: Encarta Encyclopedia 2009.)

[25] Ernest Renan (1823-1892), filologis, filsuf, dan sejarahwan Perancis.

[26] Orang Majus (Magi) atau “Orang Bijak dari Timur” adalah kaum cerdik pandai (beberapa referensi menyebutnya sebagai raja-raja kecil) yang mengunjungi Yesus (Isa Al Masih) pada saat kelahiran-Nya. Orang Majus ini secara tradisi terdiri dari 3 orang, bernama Balthasar, Melchior, dan Caspar. Beberapa ahli percaya bahwa Orang Majus ini berasal dari Asia, seperti India, bahkan China.

[27] Gustave Flaubert (1821-1880), novelis dan pemikir Perancis. Karyanya yang terkenal adalah “Madame Bovary” (1857) dan “La Tentation de St Antoine” (1874).

[28] Faun adalah tokoh dalam mitos Romawi, berupa dewa berkepala manusia tetapi berbadan kambing. Mitos Yunani menyebutnya Satyr.

[29] Sebuah istilah yang merujuk pada akhir abad ke-19. Istilah ini biasa digunakan untuk menggambarkan dekadensi moral, keserakahan, industrialisasi, kemelaratan, dan penyangkalan terhadap sistem yang mapan.

[30] Beberapa kritikus malah menyebut novel ini mengambil topik kontemporer (Columbia Encyclopedia).

[31] Kasus Dreyfus (Dreyfus Affair atau Affaire Dreyfus) adalah skandal politik terburuk di Perancis pada akhir abad ke-19. Kapten Alfred Dreyfus (1859-1935), seorang perwira keturunan Yahudi, didakwa bersalah atas tuduhan berkhianat dan memberikan rahasia militer Perancis kepada pihak Jerman. Dia kemudian dibuang ke Devil’s Island, French Guiana. Namun beberapa tahun kemudian terungkap bahwa bukti-bukti yang memberatkan Dreyfus ternyata dipalsukan oleh Mayor Ferdinand Walsin Esterhazy. Setelah pengadilan dibuka kembali, Esterhazy dilepaskan oleh pihak militer setelah hanya 2 hari ditahan, sementara Dreyfus terus menjalani hukumannya, walaupun terbukti Dreyfus tidak bersalah. Skandal tersebut memecah belah Perancis menjadi pihak yang mendukung penghukuman Dreyfus (pemerintah, gereja Katolik Roma, militer, kelompok antisemit) dan pihak yang mendukung dilepaskannya Dreyfus (para cendikiawan, sastrawan, golongan kiri, dan rakyat kebanyakan). Kekacauan politik pecah setelah Èmile Zola mengirimkan surat terbuka berjudul “J’Accuse …!” kepada Presiden Perancis. Surat ini dimuat di halaman muka surat kabar L’Aurore. Zola juga menerbitkan Manifesto Zola untuk mendukung Dreyfus yang ditandatangani oleh para pendukung Dreyfus. Akhirnya Dreyfus dilepaskan, pangkatnya dinaikkan menjadi Mayor, dan Perancis menjalankan kebijakan politik pemisahan wewenang gereja dengan pemerintahan. Dreyfus menjadi pahlawan Perang Dunia I, menerima berbagai bintang jasa, dan pensiun dengan pangkat Letnan Kolonel.

[32] Atau Salon de Paris, adalah performance tahunan di Paris yang diikuti oleh para seniman dan sastrawan. Tradisi ini dimulai pada dasawarsa 1660-an dengan persetujuan Louis XIV.

[33] Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Anatole_France, diunduh pada tanggal 14 November 2010.

Posted in Uncategorized | 2 Comments